Sabtu, 17 Januari 2015

ANGEL


Bayangkan kamu sekarang ada di duniaku. Apa yang akan kamu pikirkan? Aku tahu. Kamu pasti memikirkan dunia yang indah mungkin, perpaduan dinginnya puncak gunung dan kecantikan pantai berpasir putih. Tapi sayangnya, pemikiranmu salah. Duniaku tidak seindah yang kamu pikirkan. Duniaku hanya hitam dan putih.
                Apakah itu aneh? Menurutku tidak. Tapi semua orang bilang itu aneh. Aku sudah coba membuktikannya. Aku sudah bertanya keorang tua, guru, dan teman yang sudah pacar. Mereka selalu berkata bahwa dunia itu indah. Penuh warna-warni. Mereka selalu menjelaskan hal yang sama. Mulai salju yang putih, spidol berwarna ungu, baju warna merah, hingga langit berwarna biru.
                Menurutku mereka sudah gila. Di dunia ini, Cuma ada warna yaitu hitam dan putih. Apa artinya biru? Apa artinya merah? Apa artinya ungu? Mereka sudah gila. Tapi kata mereka, aku yang gila. Mereka bilang, bahwa duniaku belum berwarna karena ada satu hal. Satu hal yang perlu kucari sendiri. Apakah hal itu? Anda tahu? Aku tidak tahu sama sekali tentang satu hal itu.
***
                Hari ini, merupakan hari penantian bagi diriku. Umurku masih tinggal 40 menit. Ya, cukup untuk berpikir tentang masa lalu. Aku tiduran sambil melihat langit-langit indah yang merupakan gradasi warna gelap dan warna terang. Aku sengaja mengunci kamarku yang penuh riasan hitam putih, meski kata ibuku kamarku berwarna-warni. Ia baru mengakuinya tadi sore saat aku bicara kepadanya.
                Chip ini masih mengalir dalam tubuhku. Chip sialan ini masih ada di tubuhku. Ia merupakan mesin kecil yang merusak tubuhku. Karena dia, sekarang aku tahu takdirku yang sebentar lagi akan terjadi. Oh, betapa malangnya nasibku.
                40 menit hari ini, cukup mengingatkan masa laluku. Mungkin ini merupakan hal yang akan kukenang sepanjang akhir hayat. Harapanku kepada Chip ini telah pupus tak berarah.
                Hari ini, aku tertidur dan mengenang masa lalu ku.
***
“ Sabarlah, Ton. Gua tau hidup itu banyak warna.” Kata temanku yang menyuruhku bersabar.
“Oh ya, sabar, sabar. Sabar itu warnanya apa ya? Biru atau merah?” Kataku sambil menyoloti.
Dia hanya tersenyum. Dia bilang “Lu akan tahu suatu hari.  Besok lu 16 kan? Siap-siap ya, ikut tes peneksasi ?” katanya sambil mendorong pelan bahuku. “Eh gua pergi dulu, Soulmate gua udah cariin gua.” Lanjutnya.
“Ya udah, pergi sono.” Kataku sambil tertawa.
Ia tertawa dan pergi.
                Tes peneksasi itu merupakan tes yang penting di duniaku. Tes ini khusus untuk anak umur berumur 16 tahun. Saat tes ini, aku akan dimasukan sebuah cairan suntik ke dalam arteri di dekat jantung. Cairan ini merupakan chip ajaib yang ada di dunia kami. Ia bisa mendeteksi semua hal tanpa terkecuali.
                Katanya chip ini sangat hebat. Ia bisa mengubah segala hal. Katanya, ia bisa membuat duniaku lebih warna-warni dengan satu sentuhan mesin kecil itu. Setiap kali mendengarnya, aku semakin ingin muntah. Aku yakin chip ini merupakan senjata yang sangat mematikan dibuat pemerintah, untuk menjaga perilaku kita.
                Meski kelihatan keren dan hebat, menurutku hal ini sangat aneh dan tolol. Chip ini akan membuat para pemakainya muntah-muntah selama beberapa hari. Ia bagaikan racun arsenic yang tidak bisa diidentifikasi oleh darah sekalipun. Teman-temanku sudah menggunakan chip ini dan aku sudah lihat hasilnya. Ada yang bilang membanggakan, ada yang bilang itu chip sialan.
                Satu hal yang kutahu, Chip ini akan membuat aliran listrik dalam tubuh kita. Chip ini akan menunjukan sebuah waktu yang akan terus berjalan hingga menunjukan 0:00:00:00:00:00,0. Bila angka itu tercapai, maka ada sesuatu hal yang terjadi. Apakah hal yang akan terjadi? Itu tergantung dari pemikiran terdalam setiap orang. Bisa kematian, jodoh, kesuksesan, karir, dan lain-lain. Siapapun tidak akan tahu sampai waktu di chip akan habis.
***
“Kamu siap nak ? Semoga duniamu menjadi lebih berwarna setelah melakukan tes ini.” Kata ibuku sambil memegang erat tanganku.
“Iya, ma. Amin” kataku berbisik padanya.
                Akhirnya, dokterku membawaku kedalam ruang operasi khusus. Sebelum masuk ruang operasi, aku sempat melihat belakang dan melambaikan tangan ke ibuku. Ibuku yang berkulit hitam membalasnya. Dan seketika, ia menghilang setelah tirai berwarna abu-abu (campuan hitam dan putih) menutupi pandanganku.
                Sebelum operasi, aku disuntik cairan bius yang berwarna putih. Cairannya sangat sakit dan seketika membuatku pinsang sehingga aku tak bisa menceritakan apa-apa selama operasi itu. Hanya warna putih yang kulihat di langit-langit mataku.
***
“Tek, tek, tek…..” itu merupakan suara yang kudengar pertama kali setelah disuntik cairan itu. Mataku yang agak berair mata akhirnya terbangun.
“Ma, aku udah tidur berapa hari. Kepalaku mulai pecah. Sakau tuh chip.” Kataku sambil melihat kanan kiri.
“Hahahaha” ibuku hanya tertawa. Dan keadaan menjadi hening tanpa suara.
Tiba-tiba, teriakkanku pecah saat melihat tanganku. Di tanganku tertulis ANGEL dan waktu menunjukan 1:12:30:23:15:54,3 dan bergerak terus menerus.
“Ini artinya apa, ma” teriakku dengan kaget.
Mamaku yang terkejut, berlari keluar ruangan dan mencari dokter. Dalam sekejap, dokter langsung datang dan membaca tanda itu. Ia terdiam sebentar dan berkata kepadaku, “Kamu akan menemui Angel atau Malaikat dalam waktu 1 Tahun, 11 Bulan, 30 hari, 23 Jam, 15 Menit, dan 54,3 detik lagi.” Katanya sambil tersenyum.
Aku kembali ingin bertanya kepada dia kembali. Tapi tiba-tiba, ia memanggil mamaku dan menyuruhnya keluar.
Meski mereka keluar, aku bisa mendengar tangisan bundaku. Ia tahu bahwa waktu itu akan menunjukan sebuah hal yang sedih. Angel atau malaikat, bisa saja artinya bahwa 2 tahun lagi aku mati. Apakah itu benar? Aku hanya bisa menunggu dan berharap bahwa angel memiliki arti yang lain daripada kematian.
Beberapa menit kemudian, ibuku masuk dan keadaan tanpa suara kembali muncul.
***
                Seperti yang kau tahu, chip itu benar-benar sialan. Hidupku tidak berubah, malah tambah buruk. Hidupku tetap saja hitam dan putih. Tidak ada yang berubah. Hanya ada satu yang berubah. Dulu, tubuh ini milikku sepenuhnya. Tapi sekarang, tubuhku ini milik aku dan chip cacat yang ada di dekat jantungku.
                Aku juga semakin tidak mengerti dengan kegunaan chip ini. Dunia ini tetap hitam dan putih. Tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh semua orang. Setiap kali, aku bertanya pada ibuku, ia Cuma bisa tertawa dan berkata bahwa aku harus menerima dan sabar. Pertanyaanku, sabar warnanya apa ya? Karena kalau bukan hitam dan putih, itu tidak ada di kamusku.
                Aku juga coba bertanya kepada teman-temanku yang selalu memotivasiku. Mereka hanya bisa terdiam tanpa suara. Itu saja.
                “Bohong. Kalian semua! Benar-benar, sialan chip ini”, ketusku sambil pergi meninggalkan teman-temanku.
***
                Aku terbangun dengan dek-dekan setelah mengingat kata terakhir mimpiku. Tak terasa, aku sudah tidur hampir 15 menit. Waktu yang sangat berharga bagiku. Sekarang nyawaku tinggal 25 menit lagi. Sudah 3/8 nyawaku habis karena berpikir masa lalu.
                Nyawaku tinggal 25 menit. Ya, tinggal 25 menit. Aku sedang memikirkan apa yang akan kulakukan dalam 25 menit itu. Menulis puisi? Pastilah tidak cukup. Itu memerlukan waktu setengah jam. Menembak wanita? Pasti tidak mungkin. Perlu 20 menit mengirim sms. Dan bila pun diterima, kami hanya berpacaran 5 menit.                
                Tiba-tiba, ibuku memanggilku untuk turun ke bawah. Akhirya aku turun dan mungkin percakapan terakhir, aku dan ibuku.
Ia berkata, “Sudah ke rumah sepupu dan teman ?”
Aku hanya menjawab, “Iya,ma!”
               
                Memang, pagi ini, aku memutuskan untuk pergi mengunjungi sanak saudara dan teman yang berada di sekitar Jakarta. Ya, untuk bercakap-cakap sambil mengucapkan kata-kata terakhir dan perpisahan untuk selamanya. Mungkin takdir kami, untuk tidak bisa bertemu dan bekumpul bersama.
                Untuk mengenang hubunganku dengan sanak saudara dan teman-teman, aku membacakan puisi nan indah. Judulnya “Hari Kematian”. Inilah Isinya
                Pagi ini,
Aku masih bisa melihat mentari pagi
                Mendengar suara merdu burung-burung murai
                Melihat bunga Helantium Annus menari
                Merasakan sepoi-sepoi angin di hangatnya matahari

                Sekarang ini,
                Aku masih bisa,
Mengucap perpisahan
                Membaca puisi yang tak indah,
                Mengenang masa lalu yang tak berarti lagi

                Tapi,
                Takdir berkata lain malam ini,
                Kamar mewah dan baju piyama tak akan pernah kupakai
                Hanya gundukan tanah dan kain kafan yang menemani

Mendengar puisi itu, tangisan mata mereka yang berwarna putih jatuh di pipi mereka yang berwarna abu-abu di dunia serba hitam dan putih. Meski sulit untuk melihat tangisan mereka, aku bisa mendengar bunyi suara tangisan mereka. Aku tahu, mereka tetap berusaha tegar. Tetapi takdirku sudah berkata lain.
Sejujurnya, aku tak taha melihat mereka. Rasanya hati ingin menangis. Tapi, aku harus tetap sabar dalam menghadapinya. Aku tak boleh menangis. Ini adalah takdirku. Aku harus menerimanya meski merasa takut menghadapinya.
Karena itu, aku pergi meninggalkan mereka dengan tetesan air mata yang jatuh ke lantai yang putih bagai awan. Aku hanya berkata “terima Kasih” Lalu pergi meninggalkan tangisan yang telah terliang dia mata mereka.
***
 Saat aku masih terbengong, mengingat kejadian tadi pagi, ibu tiba-tiba berkata“Hai, Ton. Ibu mau bicara satu rahasia sebelum takdir mempertemukan kamu.”
“Apa bu? Tentang malaikat kematian yang menjemput? Aku sudah tahu.”kataku sambil melihat ke langin nan putih.
“Bukan. Tapi tentang dunia hitam putihmu. Kamu tahu, bahwa dunia hitam putih itu hanya sebuah kiasan yang digunakan oleh banyak orang. Ton, duniamu tidak akan pernah warna warni. Kamu sudah buta warna dari kecil.Kamu hanya bisa melihat hitam dan putih.” Katanya sambil terseduh. “Kamu harus tahu bahwa duniamu tak akan pernah menjadi warna warni apabila kamu tak pernah mau ingin merasakannya. Sebelum kamu menemui takdirmu, ibu berharap bahwa kau menemukan dunia warna warni meski duniamu akan tetap hitam putih.”kata ibuku sambil pergi meninggalkanku.
                Mendengarnya, awalanya aku merasa serba salah dan terbelenggu. Perasaan menyesal ada. Tapi apa gunanya? 20 menit lagi, merupakan takdirku.  Bila aku menyesal, aku hanya kesal 20 menit. Tak ada yang berubah. Takdir tetap saja sama. Yang penting, bagaimana aku menghabiskan waktu di sisa hidupku.
                Setelah mendengar itu, aku kembali bersantai dan sambil mendoakan semua keluarga, teman, dan orang-orang yang pernah membantuku. Di doa ini, untuk pertama kalinya aku tersenyum dalam beberapa tahun terakhir ini. Aku merasa beruntung memiliki mereka meski baru bisa bersyukur di detik-detik penantian terakhir.
                20 menit kemudian,
“Ton, ton! Bangun. Rumah ini kebakaran !”, kata ibuku sambil berteriak.
                Aku membuka kamarku dan melihat keadaan sekitar. Kobaran si jago merah telah hampir membakar rumahku. Ibuku hanya berteriak dari bawah untuk memperingati diriku agar keluar dari rumah. Meski aku tak ingin keluar, dan menunggu kematian, tapi aku harus menyelamatkan beberapa harta dan ibuku. Aku merasa bahwa menyelamatkan ibuku merupakan hal penting. Hidupnya masih berjutaan menit sedangkan hidupku hanya tinggal 4 menit saja.
Aku langsung menyalakan mesin mobil dan mengendarainya secepat mungkin untuk menyelamatkan aku dan ibuku. Rumah kami tidak akan selamat sebab, rumah kami jauh dari rumah penduduk yang lain. Ibuku melihat ke belakang sambil meneteskan air mata. Dengan mata kepalanya, ia melihat rumahnya perlahan-lahan jatuh oleh kobaran api. Kejadian ini sangat menyedihkan hatiku dan hati ibuku. Kami semua terpukul.
Tiba-tiba bunyi suara mesin (bip,bip,bip) berbunyi. Aku kaget dan ingat dengan waktu di tanganku. Waktu itu menunjukan 0:00:00:00:00:05,12 atau berarti 5 detik lagi nyawaku akan tamat. Aku hanya terdiam melihat hal itu dan tersenyum.
                DI tengah senyum, ibuku berteriak “Awas!”Aku yang terkejut melihat ke depan. Aku melihat pohon dan tiba-tiba,mataku tertutup dan suasana menjadi hening.
***
Setelah tertabrak pohon, aku tak tahu apa yang terjadi. Tetapi tiba-tiba, mataku perlahan terbuka sedikit. Aku melihat langit putih yang sangat bersih di atas. Tangan dan kakiku semuanya kaku dan tak bergerak. Mataku hanya bisa melihat ke atas saja.
Tiba-tiba, aku mendengar bunyi langkah kaki seseorang yang mungkin dinamakan Malaikat. Aku hanya bisa tersenyum. Ia berdiri di sebelahku sambil menggunakan baju dan celana putih. Sangat indah dan cantik.
Ia berkata padaku, “Pak Tony, kabar anda gimana? Apakah baik?”
Aku hanya membalas, “Aku baik, malaikat. Kita sedang perjalanan ke surga kan? Dimana Tuhan, aku sudah rindu dengannya.”
Ia tertawa dengan keras. Tiba-tiba, ia menaikkan diriku dan membuatku takjub. Aku seperti melihat pengadilan yang sangat unik. Ia terdiri dari banyak tirai-tirai kecil bagai ruang interogasi. Disana, ada dua pintu keluar. Mungkin satu arah ke Surga, satu ke arah Neraka. Suara tangisan penyesalan terdengar diantara mereka.
Aku kembali bertanya pada malaikat,”Disinikah pengadilan? Pintu mana menuju Surga?”.
Ia tertawa dengan sangat keras. Tiba-tiba ia berkata sambil tertawa “Bapak, di ruang UGD. Bapak belom mati. Siapa yang bilang bapa udah mati. Masuk pengadilan segala lagi.”
Mendengarnya, aku kaget dan bertanya pada dia, “Seharusnya aku bertemu dengan angel atau malaikat sekarang. Kok aku sekarang di UGD.” Sempat aku terpikir, bahwa malaikat bekerja di UGD untuk mengantar kepergian orangke Surga.
Ia kembali tertawa dan berkata, “Bapak Tony, tahu Angel ? Angel itu yang nyelamatin bapak tadi waktu ketabrak. Sebentar, saya panggil orangnya” Katanya smabil pergi meninggalkan aku.
Sekitar 1 menit kemudian, suster itu membawa seorang wanita cantik. Ia berambut panjang dan warnanya hitam lebat. Baju putih dan tercampur oleh lumuran cairan berwarna hitam. Mungkin lumuran itu darah. Tapi ia sangat cantik. Ia bagaikan silhouette yang indah. Au hanya bisa terdiam melihatnya. Meski aku tahu aku buta warna, tapi ia bagaikan warna-warni duniaku.
“Hai, nama saya Angel. Tadi saya kaget melihat kecelakaan anda dengan ibu anda. Jadi saya memutuskan membawa anda dengan ibu anda ke sini.”katanya dengan suara halus.
“Hai, namaku Tony. Kamu tahu tidak, kita ditakdirkan untuk bersama!” kataku sambil tertawa dan langsung menutup mulut setelah salah bicara.
“Maksudmu, apa?”katanya dengan senyum, seakan tahu maksudnya.
“Lihat, saja nanti angel. Kamu akan tahu suatu hari.” Kataku diiringi oleh tawa diriku.

TAMAT

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Cerita lu selalu tentang cinta ya? haha
-MKA