Aku berjalan di koridor
yang dipisahkan oleh rel kereta. Sambil berjalan, aku melihat banyak orang lalu
lalang pergi dan masuk ke dalam kereta. Tak menghiraukannya, aku tetap berjalan
melewati kerumunan orang – orang dan ditemani oleh awan – awan putih dengan
langit biru yang cerah. Meski sendiri setiap kali aku ke sana, aku merasa ada
orang yang menemaniku tak tahu kenapa.
“ Tak, Tak, tak,” suara bunyi hentakkan sepatuku ditengah
kerumunan hingga aku berhenti dan terbelenggu. Saat itu, aku hanya bisa
memandang sebuah koridor sempit yang kosong tanpa kerumunan orang seperti
biasanya. Saat aku melihat itu, aku selalu ingat kejadian 3 tahun lalu saat
hari itu kita berpisah. Sejak kita berpisah, aku selalu terbelenggu oleh
ingatan lama nostalgia antar kita bersama. Maka karena itu, saat orang
menyebutnya Stasiun Gambir, aku menyebutnya stasiun Kenangan.
Aku masih ingat bagaimana pertemuan kita 5 tahun lalu,
waktu itu kau datang ke tempat kerjaku di sekitar Sudirman. Kau datang dengan membawa
payung yang berwarna kuning kelabu karena pada saat itu tetesan air hujan
membasahi bumi. Kau datang dengan membawa berkas-berkas yang berisi cerita
hidupmu mulai dari kecil hingga besar.
Wajahmu manis, senyumanmu bagikan mentari di pagi hari. Itu yang membuatku
selalu senang melihat wajahmu di setiap pagi dan senja.
Kau lalu duduk di samping meja kerjaku karena mungkin
sudah takdir kita untuk duduk sebelahan. Pertemuan itu akan selalu ku ingat,
meski itu hanya sebuah sejarah.
“Hai, nama kamu siapa?” Katanya dengan senyumannya yang
manis
“Namaku Thomas, namamu siapa ?“ kataku sambil membalas
pertanyaan dia
“Namaku Asri, senang bisa berkenalan denganmu”, Kata dia
sambil memberi separuh tangannya kepadaku.
“Hahaha, aku juga senang bisa berkenalan denganmu! “,
kataku sambil memegang separuh tangannya.
Itu pembicaraan kita untuk pertama kali. Meski kita cuma
berbicara untuk beberapa ketukan waktu, tapi itu adalah merupakan pertemuan
terindah sepanjang masa. Saat kau
bicara, kau membuatku bahagia dan girang. Kata-kata manismu membuatku tersenyum
sampai aku tertidur di ranjang nan empuk di kamarku.
Kau selalu ada di hatiku. Saat aku di manapun, aku selalu
ingin bersamamu sampai empat paku menancap di petiku. Meski malam kita
berpisah, aku selalu membayangkan dirimu selalu ada disampingku. Kau bagaikan
sebuah pensil, aku adalah sebuah kertas. Kita saling membutuhkan dan seharusnya
tidak dipisahkan
Cerita manis kita telah berjalan selama beberapa bulan,
banyak cerita yang kita torehkan berdua.
Memang aku tak pernah ingin mengungkapkan fakta ini terhadapmu. Aku
takut bila aku berbicara jujur bahwa kau akan hilang tanpa pamit. Kau mungkin
tidak akan pernah disamping sisiku.
Suatu ketika saat makan siang, aku melihat Kau sangatlah
murung. Kau seperti bukan kamu, semangatmu telah pudar . Akhirnya kau melihat
mukaku, dan mulai melihatku dengan mata sedihmu. Aku tidak pernah mengerti
maksud dari pandanganmu itu. Tapi aku tahu bahwa aku harus siap menerimanya
meski hati tak terima.
“Thomas…..”, Katamu dengan suara yang kecil bagaikan
sepoi-sepoi angin di kemacetan Jakarta.
“Kenapa, kamu stress dengan pekerjaan kantor?” Tanyaku
sambil menunjukan muka kebingungan.
“Bukan, tapi mungkin hari ini merupakan hari terakhir
kita bersama. “ Katanya sambil menundukan kepalanya kebawah, menandakan akan
adanya kesedihan diantara kita.
“Hahahaha, kamu bercanda ya? “ Kataku sambil menunjukan
muka tak percaya, meski dalam hatiku mulai ada awan kelabu yang menghampiri.
“Bukan, ini
serius. Aku harus pergi pada esok hari. Aku dipindahkan ke Madiun.” katanya
sambil melihat mukaku bagaikan anak kecil yang kehilangan ayahnya setelah
bencana besar.
“Hah? Kamu beneran akan pergi meninggalkan aku dan kita
semua di sini” kataku sambil tergagap-gagap.
“Iya”, katanya dengan sangat polos.
Saat kau mengatakan itu, hatiku menangis. Aku sangat
sedih dengan apa yang terjadi. Apakah ini nyata? Atau ini hanya mimpi burukku? Yang
terpenting, kau sebentar lagi akan
tiada. Kau akan pergi untuk waktu yang tak akan kutahu. Kau akan menghilang dari
sini.
Jujur sekarang ini, aku sangat menyesal sekali bisa
berkenalan denganmu. Seharusnya kita tak usah ditakdirkan bertemu denganmu.
Seharusnya kau tak usah pernah kemari, bila kau hanya ada untuk menjadi
kenangan . Sekarang aku harus menahan beban rasa sakit yang menderita karena
kata-katamu tadi siang.
Malam itu, kau mengirimkan pesan bahwa keretamu akan
berangkat pada jam 11.00 siang. Aku tak membalas pesannya. Aku berniat untuk tidak
bertemu dengan mu, karena kamu telah membuatku kecewa . Semakin aku sering
bertemu denganmu, aku takut akan semakin
sakit dan tidak pernah merelakan hal ini terjadi.
Sekarang ini aku tertekan dan tak bisa apa-apa. Aku tak
tahan menahannya rasa sakit ini sendiri. Aku butuh teman yang mau menampung
rasa sakit itu. Maka itu, aku berani mengirimkan pesan ke Josh untuk
memberikanku saran mengenai apa yang harus kulakukan.
Beberapa menit kemudian, aku mendengar bunyi hp-ku yang
bendering dengan kencang. Aku melihat pesan Josh yang mengatakan. “Janganlah
menghindar dari dia. Datanglah ke dia dan peluklah dia untuk terakhir kali.
Memang dia hanya akan menjadi kenangan tapi kau harus membuatnya menjadi
kenangan terindah. Aku percaya bahwa bila kau melakukan apa yang kukatakan maka pada suatu hari kau akan dapat menerima
semuanya.”
Memang kata-kata Josh itu benar, tapi ada rasa takut yang
menghilangkan nyali di dalam hatiku. Aku, Thomas yang merupakan pembaca puisi
handal di sekolah saat SMA. Sekarang hanya bisa menjadi manusia penakut dan
bersembunyi di kegelapan.
Akhirnya aku memutuskan untuk bertemu dengannya di stasiun
kereta. Meski itu berat, tapi seperti kata Josh hanya dia yang dapat
mengeluarkan kenangan dalam diriku. Aku membutuhkan dia untuk menghilangkan
racun atau rasa derita di dalam hatiku. Akupun juga telah membuat kado untuk
Asri saat nanti kita bertemu di stasiun.
Hari ini Minggu dan pukul jam 10 siang, aku sudah berada
di stasiun sambil membawa kado yang telah kubuat dengan campuran rasa kangen
dan kecewa yang berlebihan. Aku sudah menunggunya lama sekali, tapi iapun tak
kunjung–kunjung datang. Aku mulai resah dan pasrah, suara hatiku mulai berbunyi
dengan kencang bagaikan sebuah tanda yang kurang baik. Dan benar…, itu dia
dengan membawa kopernya yang besar. Saat dia melihatku, dia berlari ke arahku
dan memelukku dengan erat.
Memang benar kata Josh, dipelukannya hatiku terasa nyaman
dan tentram.Aku yang merasa tegang dan tertekan sejak kemarin, akhirnya mulai
bisa menerima kenyataan saat di peluknya. Didalam pelukannya, aku merasa nyaman
dan tenang.
“Ternyata kau datang ke sini, aku pikir kita tidak akan
pernah bertemu lagi.” Katanya sambil bahagia.
Aku tak bisa berkata apa-apa, maka aku hanya bisa
tersenyum dan berkata “aku datang ke sini untuk membawa kado. Kado pertama dan
terakhir yang kuberikan padamu. Mohon kadoku, diterima.”
Pada waktu itu juga, ia membuka kadonya. Saat melihat isi
dari kadonya, perlahan –lahan tetesan air matanya keluar dan ia memelukku lagi.
Aku pun sejujurnya ingin menangis, tapi aku menahan rasa maluku dengan
tersenyum. Memang kado itu, tidak pernah bisa dibeli oleh siapapun dan
dimanapun ia berada. Kado itu bukan hanya berbentuk benda tetapi aslinya
merupakan isi hatiku yang telah kecewa dengan apa yang terjadi.
Tak
berapa lama setelah itu,aku dan kau mendengar bahwa sebentar lagi, kita akan
berpisah. Kau akan masuk ke dalam duniamu yang baru dan penuh tantangan. Aku
disini akan melaukan rutinitas seperti biasanya seperti tanpa kamu disampingku.
Kau memegang tangan ku sambil masuk kedalam gerbong kereta berwarna merah itu.
Sampai di dalamnya, kau melepaskan tanganku dan bertanya, “kapan kita akan
bertemu lagi?” Aku hanya tersenyum dan berkata, “Hanya Tuhan yang tahu.”
Akhirnya
pintu itu mulai tertutup dan sebelum
tutup untuk tertutup untuk selamanya, kau tersenyum terakhir kalinya padaku
sambil berbisik kepadaku, bahwa aku merupakan sahanat terbaiknya . Aku hanya
bisa tersenyum mendengar perkataanmu, meski hujan sudah turun di hatiku yang
akan kesepian.
Matahari
bersinar dengan terik. Terikannya yang biasa membuatku semangat melanutkan hari
–hari sekarang telah menjadi sejarah. Keretamu mulai berjalan perlahan – lahan,
disamping sana aku melihat tangisan seorang Bunda yang ditinggalkan anaknya.
Aku juga melihat seorang anak kecil mengeluarkan jari imutnya untuk menandakan
perpisahan dengan seseorang yang tak ku ketahui.
Kau
yang ada di dalam kereta mulai mengeluarakan tetesan air mata. Setiap kali kamu
merintikan air mata, itu merupakan beban yang terberat dalam hidupku. Tetapi
aku terus tabah dalam menghadapi segala hal yang terjadi, kau pergi dan akan
hilang dari hidupku. Kitapun tak akan pernah tahu kapan kita bertemu lagi.
Akhirnya,
kereta itu telah pergi dari stasiun kira – kira pada pukul 12. Aku masih
terbelenggu oleh kesedihan. Rasanya aku tak terima dengan keadaan ini. Tapi aku
selalu ingat kata ibuku bahwa aku harus
tetap tersenyum meski harus menerima segala kenyataan. Akhirnya aku berjalan
pergi meninggalkan koridor kereta yang menjadi tempat kenangan. Aku sudah tegar
dalam menghadapi hal ini, air mataku ingin keluar tapi tak tahu mengapa aku tak
sanggup mengeluarkan tetes air mata itu. Mungkin karena aku sudah kesakitan,
maka tetesan air mataku keluar dari hatiku yang bercampur dengan darah.
Cerita
itu sudah 3 tahun lamanya. Saat aku
menceritakan ini ke orang lain, maka mereka mengatakan bahwa ini adalah cinta
monyet. Saat aku mendengarkan itu, aku hanya tertawa meski aku harus terpaksa
bermuka dua karena cerita itu tetap
menjadi ganjalan di hatiku.
Tak
terasa, aku telah terdiam selama 15 menit
sambil memikirkan kisah lama yang mungkin sudah kupikirkan beribu –
beribu kali. Diantara ribuan orang lalang, aku hanya tetap melihat koridor itu.
Koridor yang berisi ribuan cerita hidupku.
Aku
tak tahu ia dimana, tetapi saat disana aku merasa ada bayangannya yang menunggu
diriku untuk bertemu kembali. Akhirnya langit mulai menggelap, aku harus pulang
ke rumahku. Aku tersenyum sambil
membalikkan diri dari koridor itu, dan mulai berjalan perlahan – lahan
meninggalkan koridor itu.
Saat tiba di parkiran, aku mulai menaiki kendaraan mesin
roda dua itu sambil melihat kecantikan stasiun itu. Stasiun itu yang ceritanya
akan selaluku kenang. Karena itu aku menyebutnya Stasiun Kenangan.
Tamat