Rabu, 18 Maret 2015

Level


                Sosok mata kau sangat menggelora. Bibirmu sangat manis bagaikan tebu yang belum disuling. Mataku sangat kecil sehingga banyak orang bilang kau sipit. Rambutmu sangat indah karena mirip zebra yang katanya ada di barat sana.
                Itulah pandanganku pertama kali mengenai dirimu. Kau sangatlah cakep. Kau sangat menawan. Mungkin tak ada yang tepat untuk mendefiniskan dirimu. Mungkin aku bodoh. Ijazahku hanya tertulis SMP sehingga belum bisa untuk merangkai kata-kata yang indah.
                Aku sangat terkejut melihat kau. Meski aku sudah berpuluh-puluh tahun naik kendaraan ini, tetapi baru pertama kalinya aku melihat kau. Kau dengan jas dan dasimu yang keren duduk diseberangku sambil melihat sebuah layar berbentuk kotak yang disebut orang-orang IPhone.
                Memang, aku tak tahu mengapa kau disini. Tetapi aku tahu bahwalah kaulah yang terbaik bagi diriku. Aku sudah mengenalmu sejak berthaun-tahun lalu saat kita masih kecil. Apakah kau masih ingat dengan aku?
                Dulu, kita merupakan teman saat SMP. Memang, aku tak terlalu mengenalmu. Tapi aku ingat, kau sangat cinta kepadaku. Bagaimana aku tahu? Kau yang mengatakannya sendiri. Kau berkata bahwa aku dan kau merupakan sebuah  pohon jati. Kau merupakan akarnya dan aku merupakan kayunya. Lalu kau berkata juga, bahwa apabila kita bersama, maka kita akan menjadi pasangan yang paling bahagia di dunia.
                Ohh, sungguh manis perkataanmu waktu dulu. Kata-katamu itu, membuatku merasa senang. Kata-katamu adalah ganja bagiku. Aku sangat membutuhkannya meski harganya sangat mahal. Tapi, apakah kau masih sayang kepadaku sekarang? Aku sungguh berharap bahwa kau tetap memiliki rasa yang sama padaku.
                Kita merupakan satu horizontal. Sejarah mengatakan bahwa kita satu level yang paling cocok. Seharusnya aku dan kau klop karena kita satu horizontal. Dan seharusnya sekarang ini, kita bersama.
                Saat aku merenung melihatmu, tiba-tiba kau mematikan layar kotak itu dan melihat diriku. Melihatku, kau tersenyum dan berkata “bagaimana kabarmu?”Aku hanya terdiam tetapi lama kelamaan tersenyum “Aku baik, bagaimana dengan kamu?”. Kau hanya tersipu malu dan berkata “Aku baik –baik saja.”. Lalu aku membalasnya dengan senyuman.
                Aku tersenyum karena aku telah menemukan kau lagi. Aku selalu ingat dengan kata-kata manismu mulai dari gombalanmu tentang pohon jati hingga kau memberikan ku sebuah kain yang kau cium meski harganya Cuma 2000.
                Saat aku bernostalgia, tiba-tiba kau memegang pundakku dan berkata, “mengapa kau terdiam ? Apakah kau lupa padaku? Apakah kau tak ingat sedikit masa nolstalgia kita?” Mendengarnya, sekali lagi aku tersenyum meski sudah beribu kali kulakukan sejak SMP. Aku berkata “ tidak, aku ingat kau. Kau merupakan teman baikku bukan?”
                Mendengarnya, ia tertawa sangat keras hingga semua orang di kendaraan umum melihat kamu. Aku hanya bisa tersenyum malu mendengar tawanya meski sejujurnya agak memalukan.
                Setelah kau berhenti tertawa, kau berkata padaku “hai kawan, aku rindu sekali padamu. Sudah hampir 8 tahun kita tak bertemu. Aku pikir kau sudah lupa. Tetapi benar kata orang, memori indah tak akan pernah dilupakan.”katanya dengan sangat senang.  Mendengarnya aku hanya terdiam.
                Aku sudah tak bertemunya sangat lama. Ingat aku hanya lulusan SMP. Meski setelah lulusan SMP, aku tak bersekolah. Aku masih ingat bahwa kau setiap hari datang ke rumahku untuk bermain bersama. Selama 2 tahun sejak lulus SMP, kau merupakan pacar sekaligus teman baikku. Aku sangat senang dekat denganmu. Aku bisa terus tersenyum meski aku tak bisa bersekolah lagi.
                Senyum manis itu berakhir 2 tahun kemudian. Saat kau pergi meninggalkan aku. Tanpa nomor, tanpa cerita, tanpa perpisahan. Kau pergi langsung meninggalkanku. Kata orang-orang, kau pergi ke SMA top di Jakarta setelah mendapatkan beasiswa secara penuh. Sedangkan aku hanya bisa duduk diam. Menangisi keadaan dan berusaha hidup tanpa dirimu. Dan itu akhir nostalgia dan ceritaku tentang dirimu.
                Saat aku sedang asyik terdiam, tiba-tiba kau menyenggol aku dan berkata “Hei, mengapa kamu? Mengapa kau sangat diam? Kitakan teman baik sejak dulu. Tak ada yang bisa kau ceritakan atau kau tanyakan kepadaku?” katanya dengan senyum.
                Mendengarnya, aku langsung berkata “ada” tetapi setelah berkata “ada”, aku langsung menutup mulutku untuk tidak menanyakan hal itu. Ya, aku harus bisa menutupi hasrat ingin tahu itu.
                Kau kembali bertanya kepadaku, “ada? Ayo ceritakan saja kepadaku. Aku sekarang orangnya terbuka. Sejak hidup di kota, aku hidup yang lebih baik. Sekolah yang lebih baik, rumah yang lebih baik, dan pastinya pacar yang lebih baik”
                Mendengar kata “pacar”, tubuhku langsung meronta seakan merasa tak terima. Dahulu kau berkata padaku bahwa kau cinta padaku. Tapi dimana cintamu? Aku tak mengerti apa yang terjadi dengan dikau.
                “Hmm, pacar baru? Siapa pacar barumu?” kataku dengan kesal.
                Kau tersenyum bangga dan berkata “pacarku ini hebatloh. Ia kaya. Punya banyak mobil. Hartanya sangat melimpah. Hatinya baik lagi. Sungguh senang aku bisa bersamanya.”
                Mendengar itu, mataku tidak berani melihatmu. Aku lansgung membalikkan muka melihat jendela transaparan. Lebih baik aku mendengar bunyi klakson mobil disebelahku daripada mendengar buaianmu.
                Aku tak tahu bagaimana perasaanmu melihatku. Mungkin perasaanmu telah membatu. Atau mungkin  perasaanmu terlalu kaku untuk menerima hatiku lagi.
                Tiba-tiba, tanpa sengaja, aku bertanya “ lalu, mengapa kau naik angkot? Kau kan sudah kaya? Mengapa tidak membeli mobil BMW atau motor Harley yang katanya harga miliaran?”
                Kau tersenyum dan mengubah pembicaraan,”Hahahaha, sebentar lagi aku turun. Mauku antar?”
                Mendengarnya aku tertawa. Aku ingin menolak. Impuls menolak sudah kukirim dari otak ke mulut. Tapi sayangnya, mulut berkata “iya”. Mungkin aku terlalu banyak bohong terhadap diriku. Aku sejujurnya ingin tahu banyak hal tentang dirimu sekarang ini.
                Beberapa detik kemudian, kau mengajakku turun dari angkotan bus yang kumuh itu. Lalu beberapa detik kemudian, kau sudah mengajakku naik mobil BMW yang katanya harganya beratus-ratus juta. Aku takjub melihat kekayaanmu. Cerita ini sudah seperti drama saja.
                Setelah melihat mobil itu selama beberapa detik, kau mengajakku masuk ke dalam mobil itu. Hmmm…. Wanginya sangat harum saat aku masuk. Kelihatan sekali, ini bukan mobil murahan. Harganya pasti mahal.
                Di dalam perjalanan mengantar pulang, kau berkata padaku “Aku tahu kau sedih, melihatku meninggalkanmu bukan? Tapi ini namanya hidup, Aku ingin hidup yang lebih baik, bukannya kau juga ingin?”
                “iya, aku mengerti. Kau ingin meningkatkan kelasmu bukan?kau malu suka dengan orang yang level lebih rendahkan? Dasar kau lelaki bajingan.” Kataku agak sedikit kesal sambil membuang muka ke jendela. Sejujurnya , aku ingin keluar dari mobil tapi aku tak mengenal jalan itu sehingga aku harus ikut dengannya.
                “Iya, terserah apa katamu. Kau akan mengerti suatu hari bahwa level atau kelas lebih penting dari cinta. Tanpa peningkatan kelas, kau tak akan bisa hidup dengan bahagia. Itu merupakan pelajaran yang kau harus petik bila tinggal di kota.” Katanya sambil tertawa.
                Mendengarnya, aku hanya terdiam dan mobil tetap terus berjalan hingga suatu saat kau memberhentikan mobil dan berkata,”tunggu sebentar, aku harus menjemput pacarku disini. Mungkin sebentar lagi akan datang,” katanya sambil melihat-lihat ke jendela.
                Aku hanya mengangkat jempol tetapi tak melihat mukanya. Aku sangat keasl dengan lelaki bajingan itu. Bila aku telah sampai ke rumah, aku akan pergi dan berharap tak bertemu dengan dia lagi.
                Beberapa menit kemudian, tiba-tiba ada seorang wanita muda yang cantik jalan ke mobilku. Melihatnya, aku kaget karena tak percaya bahwa ia bisa ditipu dengan lelaki bajingan itu. Ada perasaan ingin menonjok kau karena sikapmu sudah keterlaluan.
                Wanita itu masuk ke dalam mobil. Ia bingung melihatku sambil bertanya, “ini siapa, pa?”. Kau hanya menjawab “ini temanku masa kecil. Aku mau mengantarnya pulang. Sudah lama, aku tak berbicara kepadanya.”
                Wanita itu tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dengan paksaan.
                Beberapa menit kemudian, ada seorang wanita tua yang berjalan menuju mobil. Mukanya sudah kelihatan seperti orang 50-an. Tetapi akibat dari riasannya yang sangat menor, ia masih kelihatan sangat muda. Ia berjalan dengan lemah gemulai dengan high heels yang tinggi itu. Mungkin sekitar 4-5 cm.
                Tiba-tiba saja kau keluar di mobil. Menyapanya lalu mencium keningnya dihadapanku. Hatiku merasa sakit melihat itu. Rasanya aku bisa mati terkena serangan jantung.
                Aku berkata dalam hati,”Dimanakah rasa cintamu yang dulu sayang? Katanya, kau selalu cinta padaku. Kau berkata bahwa kita bagaikan pohon jati yang kokoh. Kau bilang bahwa kau akan mencintaiku selamanya. Tapi dimanakah kau sekarang? Apakah dirimu yang asli sudah mati karena uang dan kekuasaan?”
                Perlahan –lahan karena sakit, aku memutuskan membuka mobil dan belari keluar meninggalkan mereka semua. Aku tahu bahwa orang yang dicintai telah pergi karena memilih kekayaan dan kekuasaan daripada rasa kasih sayang sebenarnya.
                Hari itu merupakan hari tersial dalam hidupku. Aku pulang naik taksi dengan ongkos yang sangat mahal. Uang itu menghabiskan uang makan sehariku. Tetapi yang lebih membuatku sakit adalah bahwa kau mencintai orang bukan karena cinta tapi karena uang.
                Sekarang aku mengerti sayang, bahwa duniamu berbeda dengan duniaku. Kau lebih memilih orang yang level diatasku, meski aku yakin bahwa kau tak mencintainya. Sedangkan aku yang kau cintai, yang berada di level bawah, malah kau singkirkan dalam hidupmu.

              "maafkan aku sayang, karena levelku dengan levelmu berbeda.”, kataku sambil mengeluarkan air mata.

Rabu, 28 Januari 2015

Statiun Kenangan


           Aku berjalan di koridor yang dipisahkan oleh rel kereta. Sambil berjalan, aku melihat banyak orang lalu lalang pergi dan masuk ke dalam kereta. Tak menghiraukannya, aku tetap berjalan melewati kerumunan orang – orang dan ditemani oleh awan – awan putih dengan langit biru yang cerah. Meski sendiri setiap kali aku ke sana, aku merasa ada orang yang menemaniku tak tahu kenapa.
            “ Tak, Tak, tak,” suara bunyi hentakkan sepatuku ditengah kerumunan hingga aku berhenti dan terbelenggu. Saat itu, aku hanya bisa memandang sebuah koridor sempit yang kosong tanpa kerumunan orang seperti biasanya. Saat aku melihat itu, aku selalu ingat kejadian 3 tahun lalu saat hari itu kita berpisah. Sejak kita berpisah, aku selalu terbelenggu oleh ingatan lama nostalgia antar kita bersama. Maka karena itu, saat orang menyebutnya Stasiun Gambir, aku menyebutnya stasiun Kenangan.
            Aku masih ingat bagaimana pertemuan kita 5 tahun lalu, waktu itu kau datang ke tempat kerjaku di sekitar Sudirman. Kau datang dengan membawa payung yang berwarna kuning kelabu karena pada saat itu tetesan air hujan membasahi bumi. Kau datang dengan membawa berkas-berkas yang berisi cerita hidupmu  mulai dari kecil hingga besar. Wajahmu manis, senyumanmu bagikan mentari di pagi hari. Itu yang membuatku selalu senang melihat wajahmu di setiap pagi dan senja.
            Kau lalu duduk di samping meja kerjaku karena mungkin sudah takdir kita untuk duduk sebelahan. Pertemuan itu akan selalu ku ingat, meski itu hanya sebuah sejarah.
            “Hai, nama kamu siapa?” Katanya dengan senyumannya yang manis
            “Namaku Thomas, namamu siapa ?“ kataku sambil membalas pertanyaan dia
            “Namaku Asri, senang bisa berkenalan denganmu”, Kata dia sambil memberi separuh tangannya kepadaku.
            “Hahaha, aku juga senang bisa berkenalan denganmu! “, kataku sambil memegang separuh tangannya.
            Itu pembicaraan kita untuk pertama kali. Meski kita cuma berbicara untuk beberapa ketukan waktu, tapi itu adalah merupakan pertemuan terindah sepanjang masa.  Saat kau bicara, kau membuatku bahagia dan girang. Kata-kata manismu membuatku tersenyum sampai aku tertidur di ranjang nan empuk di kamarku.
            Kau selalu ada di hatiku. Saat aku di manapun, aku selalu ingin bersamamu sampai empat paku menancap di petiku. Meski malam kita berpisah, aku selalu membayangkan dirimu selalu ada disampingku. Kau bagaikan sebuah pensil, aku adalah sebuah kertas. Kita saling membutuhkan dan seharusnya tidak dipisahkan
            Cerita manis kita telah berjalan selama beberapa bulan, banyak cerita yang kita torehkan berdua.  Memang aku tak pernah ingin mengungkapkan fakta ini terhadapmu. Aku takut bila aku berbicara jujur bahwa kau akan hilang tanpa pamit. Kau mungkin tidak akan pernah disamping sisiku.
            Suatu ketika saat makan siang, aku melihat Kau sangatlah murung. Kau seperti bukan kamu, semangatmu telah pudar . Akhirnya kau melihat mukaku, dan mulai melihatku dengan mata sedihmu. Aku tidak pernah mengerti maksud dari pandanganmu itu. Tapi aku tahu bahwa aku harus siap menerimanya meski hati tak terima.
            “Thomas…..”, Katamu dengan suara yang kecil bagaikan sepoi-sepoi angin di kemacetan Jakarta.
            “Kenapa, kamu stress dengan pekerjaan kantor?” Tanyaku sambil menunjukan muka kebingungan.
            “Bukan, tapi mungkin hari ini merupakan hari terakhir kita bersama. “ Katanya sambil menundukan kepalanya kebawah, menandakan akan adanya kesedihan diantara kita.
            “Hahahaha, kamu bercanda ya? “ Kataku sambil menunjukan muka tak percaya, meski dalam hatiku mulai ada awan kelabu yang menghampiri.
            “Bukan,  ini serius. Aku harus pergi pada esok hari. Aku dipindahkan ke Madiun.” katanya sambil melihat mukaku bagaikan anak kecil yang kehilangan ayahnya setelah bencana besar.
            “Hah? Kamu beneran akan pergi meninggalkan aku dan kita semua di sini” kataku sambil tergagap-gagap.
            “Iya”, katanya dengan sangat polos.
            Saat kau mengatakan itu, hatiku menangis. Aku sangat sedih dengan apa yang terjadi. Apakah ini nyata? Atau ini hanya mimpi burukku? Yang terpenting,  kau sebentar lagi akan tiada. Kau akan pergi untuk waktu yang tak akan kutahu. Kau akan menghilang dari sini.
            Jujur sekarang ini, aku sangat menyesal sekali bisa berkenalan denganmu. Seharusnya kita tak usah ditakdirkan bertemu denganmu. Seharusnya kau tak usah pernah kemari, bila kau hanya ada untuk menjadi kenangan . Sekarang aku harus menahan beban rasa sakit yang menderita karena kata-katamu tadi siang.
            Malam itu, kau mengirimkan pesan bahwa keretamu akan berangkat pada jam 11.00 siang. Aku tak membalas pesannya. Aku berniat untuk tidak bertemu dengan mu, karena kamu telah membuatku kecewa . Semakin aku sering bertemu denganmu, aku  takut akan semakin sakit dan tidak pernah merelakan hal ini terjadi.
            Sekarang ini aku tertekan dan tak bisa apa-apa. Aku tak tahan menahannya rasa sakit ini sendiri. Aku butuh teman yang mau menampung rasa sakit itu. Maka itu, aku berani mengirimkan pesan ke Josh untuk memberikanku saran mengenai apa yang harus kulakukan.
            Beberapa menit kemudian, aku mendengar bunyi hp-ku yang bendering dengan kencang. Aku melihat pesan Josh yang mengatakan. “Janganlah menghindar dari dia. Datanglah ke dia dan peluklah dia untuk terakhir kali. Memang dia hanya akan menjadi kenangan tapi kau harus membuatnya menjadi kenangan terindah. Aku percaya bahwa bila kau melakukan apa yang kukatakan  maka pada suatu hari kau akan dapat menerima semuanya.”
            Memang kata-kata Josh itu benar, tapi ada rasa takut yang menghilangkan nyali di dalam hatiku. Aku, Thomas yang merupakan pembaca puisi handal di sekolah saat SMA. Sekarang hanya bisa menjadi manusia penakut dan bersembunyi di kegelapan.
            Akhirnya aku memutuskan untuk bertemu dengannya di stasiun kereta. Meski itu berat, tapi seperti kata Josh hanya dia yang dapat mengeluarkan kenangan dalam diriku. Aku membutuhkan dia untuk menghilangkan racun atau rasa derita di dalam hatiku. Akupun juga telah membuat kado untuk Asri saat nanti kita bertemu di stasiun.
            Hari ini Minggu dan pukul jam 10 siang, aku sudah berada di stasiun sambil membawa kado yang telah kubuat dengan campuran rasa kangen dan kecewa yang berlebihan. Aku sudah menunggunya lama sekali, tapi iapun tak kunjung–kunjung datang. Aku mulai resah dan pasrah, suara hatiku mulai berbunyi dengan kencang bagaikan sebuah tanda yang kurang baik. Dan benar…, itu dia dengan membawa kopernya yang besar. Saat dia melihatku, dia berlari ke arahku dan memelukku dengan erat.
            Memang benar kata Josh, dipelukannya hatiku terasa nyaman dan tentram.Aku yang merasa tegang dan tertekan sejak kemarin, akhirnya mulai bisa menerima kenyataan saat di peluknya. Didalam pelukannya, aku merasa nyaman dan tenang.
            “Ternyata kau datang ke sini, aku pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi.” Katanya sambil bahagia.
            Aku tak bisa berkata apa-apa, maka aku hanya bisa tersenyum dan berkata “aku datang ke sini untuk membawa kado. Kado pertama dan terakhir yang kuberikan padamu. Mohon kadoku, diterima.”
            Pada waktu itu juga, ia membuka kadonya. Saat melihat isi dari kadonya, perlahan –lahan tetesan air matanya keluar dan ia memelukku lagi. Aku pun sejujurnya ingin menangis, tapi aku menahan rasa maluku dengan tersenyum. Memang kado itu, tidak pernah bisa dibeli oleh siapapun dan dimanapun ia berada. Kado itu bukan hanya berbentuk benda tetapi aslinya merupakan isi hatiku yang telah kecewa dengan apa yang terjadi.
Tak berapa lama setelah itu,aku dan kau mendengar bahwa sebentar lagi, kita akan berpisah. Kau akan masuk ke dalam duniamu yang baru dan penuh tantangan. Aku disini akan melaukan rutinitas seperti biasanya seperti tanpa kamu disampingku. Kau memegang tangan ku sambil masuk kedalam gerbong kereta berwarna merah itu. Sampai di dalamnya, kau melepaskan tanganku dan bertanya, “kapan kita akan bertemu lagi?” Aku hanya tersenyum dan berkata, “Hanya Tuhan yang tahu.”
Akhirnya pintu itu mulai tertutup  dan sebelum tutup untuk tertutup untuk selamanya, kau tersenyum terakhir kalinya padaku sambil berbisik kepadaku, bahwa aku merupakan sahanat terbaiknya . Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataanmu, meski hujan sudah turun di hatiku yang akan kesepian.
Matahari bersinar dengan terik. Terikannya yang biasa membuatku semangat melanutkan hari –hari sekarang telah menjadi sejarah. Keretamu mulai berjalan perlahan – lahan, disamping sana aku melihat tangisan seorang Bunda yang ditinggalkan anaknya. Aku juga melihat seorang anak kecil mengeluarkan jari imutnya untuk menandakan perpisahan dengan seseorang yang tak ku ketahui.
Kau yang ada di dalam kereta mulai mengeluarakan tetesan air mata. Setiap kali kamu merintikan air mata, itu merupakan beban yang terberat dalam hidupku. Tetapi aku terus tabah dalam menghadapi segala hal yang terjadi, kau pergi dan akan hilang dari hidupku. Kitapun tak akan pernah tahu kapan kita bertemu lagi.
Akhirnya, kereta itu telah pergi dari stasiun kira – kira pada pukul 12. Aku masih terbelenggu oleh kesedihan. Rasanya aku tak terima dengan keadaan ini. Tapi aku selalu ingat kata ibuku bahwa  aku harus tetap tersenyum meski harus menerima segala kenyataan. Akhirnya aku berjalan pergi meninggalkan koridor kereta yang menjadi tempat kenangan. Aku sudah tegar dalam menghadapi hal ini, air mataku ingin keluar tapi tak tahu mengapa aku tak sanggup mengeluarkan tetes air mata itu. Mungkin karena aku sudah kesakitan, maka tetesan air mataku keluar dari hatiku yang bercampur dengan darah.
Cerita itu sudah 3 tahun lamanya.  Saat aku menceritakan ini ke orang lain, maka mereka mengatakan bahwa ini adalah cinta monyet. Saat aku mendengarkan itu, aku hanya tertawa meski aku harus terpaksa bermuka dua karena  cerita itu tetap menjadi  ganjalan di hatiku. 
Tak terasa, aku telah terdiam selama 15 menit  sambil memikirkan kisah lama yang mungkin sudah kupikirkan beribu – beribu kali. Diantara ribuan orang lalang, aku hanya tetap melihat koridor itu. Koridor yang berisi ribuan cerita hidupku.
Aku tak tahu ia dimana, tetapi saat disana aku merasa ada bayangannya yang menunggu diriku untuk bertemu kembali. Akhirnya langit mulai menggelap, aku harus pulang ke rumahku.  Aku tersenyum sambil membalikkan diri dari koridor itu, dan mulai berjalan perlahan – lahan meninggalkan  koridor itu.
            Saat tiba di parkiran, aku mulai menaiki kendaraan mesin roda dua itu sambil melihat kecantikan stasiun itu. Stasiun itu yang ceritanya akan selaluku kenang. Karena itu aku menyebutnya Stasiun Kenangan.

Tamat

Sabtu, 17 Januari 2015

ANGEL


Bayangkan kamu sekarang ada di duniaku. Apa yang akan kamu pikirkan? Aku tahu. Kamu pasti memikirkan dunia yang indah mungkin, perpaduan dinginnya puncak gunung dan kecantikan pantai berpasir putih. Tapi sayangnya, pemikiranmu salah. Duniaku tidak seindah yang kamu pikirkan. Duniaku hanya hitam dan putih.
                Apakah itu aneh? Menurutku tidak. Tapi semua orang bilang itu aneh. Aku sudah coba membuktikannya. Aku sudah bertanya keorang tua, guru, dan teman yang sudah pacar. Mereka selalu berkata bahwa dunia itu indah. Penuh warna-warni. Mereka selalu menjelaskan hal yang sama. Mulai salju yang putih, spidol berwarna ungu, baju warna merah, hingga langit berwarna biru.
                Menurutku mereka sudah gila. Di dunia ini, Cuma ada warna yaitu hitam dan putih. Apa artinya biru? Apa artinya merah? Apa artinya ungu? Mereka sudah gila. Tapi kata mereka, aku yang gila. Mereka bilang, bahwa duniaku belum berwarna karena ada satu hal. Satu hal yang perlu kucari sendiri. Apakah hal itu? Anda tahu? Aku tidak tahu sama sekali tentang satu hal itu.
***
                Hari ini, merupakan hari penantian bagi diriku. Umurku masih tinggal 40 menit. Ya, cukup untuk berpikir tentang masa lalu. Aku tiduran sambil melihat langit-langit indah yang merupakan gradasi warna gelap dan warna terang. Aku sengaja mengunci kamarku yang penuh riasan hitam putih, meski kata ibuku kamarku berwarna-warni. Ia baru mengakuinya tadi sore saat aku bicara kepadanya.
                Chip ini masih mengalir dalam tubuhku. Chip sialan ini masih ada di tubuhku. Ia merupakan mesin kecil yang merusak tubuhku. Karena dia, sekarang aku tahu takdirku yang sebentar lagi akan terjadi. Oh, betapa malangnya nasibku.
                40 menit hari ini, cukup mengingatkan masa laluku. Mungkin ini merupakan hal yang akan kukenang sepanjang akhir hayat. Harapanku kepada Chip ini telah pupus tak berarah.
                Hari ini, aku tertidur dan mengenang masa lalu ku.
***
“ Sabarlah, Ton. Gua tau hidup itu banyak warna.” Kata temanku yang menyuruhku bersabar.
“Oh ya, sabar, sabar. Sabar itu warnanya apa ya? Biru atau merah?” Kataku sambil menyoloti.
Dia hanya tersenyum. Dia bilang “Lu akan tahu suatu hari.  Besok lu 16 kan? Siap-siap ya, ikut tes peneksasi ?” katanya sambil mendorong pelan bahuku. “Eh gua pergi dulu, Soulmate gua udah cariin gua.” Lanjutnya.
“Ya udah, pergi sono.” Kataku sambil tertawa.
Ia tertawa dan pergi.
                Tes peneksasi itu merupakan tes yang penting di duniaku. Tes ini khusus untuk anak umur berumur 16 tahun. Saat tes ini, aku akan dimasukan sebuah cairan suntik ke dalam arteri di dekat jantung. Cairan ini merupakan chip ajaib yang ada di dunia kami. Ia bisa mendeteksi semua hal tanpa terkecuali.
                Katanya chip ini sangat hebat. Ia bisa mengubah segala hal. Katanya, ia bisa membuat duniaku lebih warna-warni dengan satu sentuhan mesin kecil itu. Setiap kali mendengarnya, aku semakin ingin muntah. Aku yakin chip ini merupakan senjata yang sangat mematikan dibuat pemerintah, untuk menjaga perilaku kita.
                Meski kelihatan keren dan hebat, menurutku hal ini sangat aneh dan tolol. Chip ini akan membuat para pemakainya muntah-muntah selama beberapa hari. Ia bagaikan racun arsenic yang tidak bisa diidentifikasi oleh darah sekalipun. Teman-temanku sudah menggunakan chip ini dan aku sudah lihat hasilnya. Ada yang bilang membanggakan, ada yang bilang itu chip sialan.
                Satu hal yang kutahu, Chip ini akan membuat aliran listrik dalam tubuh kita. Chip ini akan menunjukan sebuah waktu yang akan terus berjalan hingga menunjukan 0:00:00:00:00:00,0. Bila angka itu tercapai, maka ada sesuatu hal yang terjadi. Apakah hal yang akan terjadi? Itu tergantung dari pemikiran terdalam setiap orang. Bisa kematian, jodoh, kesuksesan, karir, dan lain-lain. Siapapun tidak akan tahu sampai waktu di chip akan habis.
***
“Kamu siap nak ? Semoga duniamu menjadi lebih berwarna setelah melakukan tes ini.” Kata ibuku sambil memegang erat tanganku.
“Iya, ma. Amin” kataku berbisik padanya.
                Akhirnya, dokterku membawaku kedalam ruang operasi khusus. Sebelum masuk ruang operasi, aku sempat melihat belakang dan melambaikan tangan ke ibuku. Ibuku yang berkulit hitam membalasnya. Dan seketika, ia menghilang setelah tirai berwarna abu-abu (campuan hitam dan putih) menutupi pandanganku.
                Sebelum operasi, aku disuntik cairan bius yang berwarna putih. Cairannya sangat sakit dan seketika membuatku pinsang sehingga aku tak bisa menceritakan apa-apa selama operasi itu. Hanya warna putih yang kulihat di langit-langit mataku.
***
“Tek, tek, tek…..” itu merupakan suara yang kudengar pertama kali setelah disuntik cairan itu. Mataku yang agak berair mata akhirnya terbangun.
“Ma, aku udah tidur berapa hari. Kepalaku mulai pecah. Sakau tuh chip.” Kataku sambil melihat kanan kiri.
“Hahahaha” ibuku hanya tertawa. Dan keadaan menjadi hening tanpa suara.
Tiba-tiba, teriakkanku pecah saat melihat tanganku. Di tanganku tertulis ANGEL dan waktu menunjukan 1:12:30:23:15:54,3 dan bergerak terus menerus.
“Ini artinya apa, ma” teriakku dengan kaget.
Mamaku yang terkejut, berlari keluar ruangan dan mencari dokter. Dalam sekejap, dokter langsung datang dan membaca tanda itu. Ia terdiam sebentar dan berkata kepadaku, “Kamu akan menemui Angel atau Malaikat dalam waktu 1 Tahun, 11 Bulan, 30 hari, 23 Jam, 15 Menit, dan 54,3 detik lagi.” Katanya sambil tersenyum.
Aku kembali ingin bertanya kepada dia kembali. Tapi tiba-tiba, ia memanggil mamaku dan menyuruhnya keluar.
Meski mereka keluar, aku bisa mendengar tangisan bundaku. Ia tahu bahwa waktu itu akan menunjukan sebuah hal yang sedih. Angel atau malaikat, bisa saja artinya bahwa 2 tahun lagi aku mati. Apakah itu benar? Aku hanya bisa menunggu dan berharap bahwa angel memiliki arti yang lain daripada kematian.
Beberapa menit kemudian, ibuku masuk dan keadaan tanpa suara kembali muncul.
***
                Seperti yang kau tahu, chip itu benar-benar sialan. Hidupku tidak berubah, malah tambah buruk. Hidupku tetap saja hitam dan putih. Tidak ada yang berubah. Hanya ada satu yang berubah. Dulu, tubuh ini milikku sepenuhnya. Tapi sekarang, tubuhku ini milik aku dan chip cacat yang ada di dekat jantungku.
                Aku juga semakin tidak mengerti dengan kegunaan chip ini. Dunia ini tetap hitam dan putih. Tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh semua orang. Setiap kali, aku bertanya pada ibuku, ia Cuma bisa tertawa dan berkata bahwa aku harus menerima dan sabar. Pertanyaanku, sabar warnanya apa ya? Karena kalau bukan hitam dan putih, itu tidak ada di kamusku.
                Aku juga coba bertanya kepada teman-temanku yang selalu memotivasiku. Mereka hanya bisa terdiam tanpa suara. Itu saja.
                “Bohong. Kalian semua! Benar-benar, sialan chip ini”, ketusku sambil pergi meninggalkan teman-temanku.
***
                Aku terbangun dengan dek-dekan setelah mengingat kata terakhir mimpiku. Tak terasa, aku sudah tidur hampir 15 menit. Waktu yang sangat berharga bagiku. Sekarang nyawaku tinggal 25 menit lagi. Sudah 3/8 nyawaku habis karena berpikir masa lalu.
                Nyawaku tinggal 25 menit. Ya, tinggal 25 menit. Aku sedang memikirkan apa yang akan kulakukan dalam 25 menit itu. Menulis puisi? Pastilah tidak cukup. Itu memerlukan waktu setengah jam. Menembak wanita? Pasti tidak mungkin. Perlu 20 menit mengirim sms. Dan bila pun diterima, kami hanya berpacaran 5 menit.                
                Tiba-tiba, ibuku memanggilku untuk turun ke bawah. Akhirya aku turun dan mungkin percakapan terakhir, aku dan ibuku.
Ia berkata, “Sudah ke rumah sepupu dan teman ?”
Aku hanya menjawab, “Iya,ma!”
               
                Memang, pagi ini, aku memutuskan untuk pergi mengunjungi sanak saudara dan teman yang berada di sekitar Jakarta. Ya, untuk bercakap-cakap sambil mengucapkan kata-kata terakhir dan perpisahan untuk selamanya. Mungkin takdir kami, untuk tidak bisa bertemu dan bekumpul bersama.
                Untuk mengenang hubunganku dengan sanak saudara dan teman-teman, aku membacakan puisi nan indah. Judulnya “Hari Kematian”. Inilah Isinya
                Pagi ini,
Aku masih bisa melihat mentari pagi
                Mendengar suara merdu burung-burung murai
                Melihat bunga Helantium Annus menari
                Merasakan sepoi-sepoi angin di hangatnya matahari

                Sekarang ini,
                Aku masih bisa,
Mengucap perpisahan
                Membaca puisi yang tak indah,
                Mengenang masa lalu yang tak berarti lagi

                Tapi,
                Takdir berkata lain malam ini,
                Kamar mewah dan baju piyama tak akan pernah kupakai
                Hanya gundukan tanah dan kain kafan yang menemani

Mendengar puisi itu, tangisan mata mereka yang berwarna putih jatuh di pipi mereka yang berwarna abu-abu di dunia serba hitam dan putih. Meski sulit untuk melihat tangisan mereka, aku bisa mendengar bunyi suara tangisan mereka. Aku tahu, mereka tetap berusaha tegar. Tetapi takdirku sudah berkata lain.
Sejujurnya, aku tak taha melihat mereka. Rasanya hati ingin menangis. Tapi, aku harus tetap sabar dalam menghadapinya. Aku tak boleh menangis. Ini adalah takdirku. Aku harus menerimanya meski merasa takut menghadapinya.
Karena itu, aku pergi meninggalkan mereka dengan tetesan air mata yang jatuh ke lantai yang putih bagai awan. Aku hanya berkata “terima Kasih” Lalu pergi meninggalkan tangisan yang telah terliang dia mata mereka.
***
 Saat aku masih terbengong, mengingat kejadian tadi pagi, ibu tiba-tiba berkata“Hai, Ton. Ibu mau bicara satu rahasia sebelum takdir mempertemukan kamu.”
“Apa bu? Tentang malaikat kematian yang menjemput? Aku sudah tahu.”kataku sambil melihat ke langin nan putih.
“Bukan. Tapi tentang dunia hitam putihmu. Kamu tahu, bahwa dunia hitam putih itu hanya sebuah kiasan yang digunakan oleh banyak orang. Ton, duniamu tidak akan pernah warna warni. Kamu sudah buta warna dari kecil.Kamu hanya bisa melihat hitam dan putih.” Katanya sambil terseduh. “Kamu harus tahu bahwa duniamu tak akan pernah menjadi warna warni apabila kamu tak pernah mau ingin merasakannya. Sebelum kamu menemui takdirmu, ibu berharap bahwa kau menemukan dunia warna warni meski duniamu akan tetap hitam putih.”kata ibuku sambil pergi meninggalkanku.
                Mendengarnya, awalanya aku merasa serba salah dan terbelenggu. Perasaan menyesal ada. Tapi apa gunanya? 20 menit lagi, merupakan takdirku.  Bila aku menyesal, aku hanya kesal 20 menit. Tak ada yang berubah. Takdir tetap saja sama. Yang penting, bagaimana aku menghabiskan waktu di sisa hidupku.
                Setelah mendengar itu, aku kembali bersantai dan sambil mendoakan semua keluarga, teman, dan orang-orang yang pernah membantuku. Di doa ini, untuk pertama kalinya aku tersenyum dalam beberapa tahun terakhir ini. Aku merasa beruntung memiliki mereka meski baru bisa bersyukur di detik-detik penantian terakhir.
                20 menit kemudian,
“Ton, ton! Bangun. Rumah ini kebakaran !”, kata ibuku sambil berteriak.
                Aku membuka kamarku dan melihat keadaan sekitar. Kobaran si jago merah telah hampir membakar rumahku. Ibuku hanya berteriak dari bawah untuk memperingati diriku agar keluar dari rumah. Meski aku tak ingin keluar, dan menunggu kematian, tapi aku harus menyelamatkan beberapa harta dan ibuku. Aku merasa bahwa menyelamatkan ibuku merupakan hal penting. Hidupnya masih berjutaan menit sedangkan hidupku hanya tinggal 4 menit saja.
Aku langsung menyalakan mesin mobil dan mengendarainya secepat mungkin untuk menyelamatkan aku dan ibuku. Rumah kami tidak akan selamat sebab, rumah kami jauh dari rumah penduduk yang lain. Ibuku melihat ke belakang sambil meneteskan air mata. Dengan mata kepalanya, ia melihat rumahnya perlahan-lahan jatuh oleh kobaran api. Kejadian ini sangat menyedihkan hatiku dan hati ibuku. Kami semua terpukul.
Tiba-tiba bunyi suara mesin (bip,bip,bip) berbunyi. Aku kaget dan ingat dengan waktu di tanganku. Waktu itu menunjukan 0:00:00:00:00:05,12 atau berarti 5 detik lagi nyawaku akan tamat. Aku hanya terdiam melihat hal itu dan tersenyum.
                DI tengah senyum, ibuku berteriak “Awas!”Aku yang terkejut melihat ke depan. Aku melihat pohon dan tiba-tiba,mataku tertutup dan suasana menjadi hening.
***
Setelah tertabrak pohon, aku tak tahu apa yang terjadi. Tetapi tiba-tiba, mataku perlahan terbuka sedikit. Aku melihat langit putih yang sangat bersih di atas. Tangan dan kakiku semuanya kaku dan tak bergerak. Mataku hanya bisa melihat ke atas saja.
Tiba-tiba, aku mendengar bunyi langkah kaki seseorang yang mungkin dinamakan Malaikat. Aku hanya bisa tersenyum. Ia berdiri di sebelahku sambil menggunakan baju dan celana putih. Sangat indah dan cantik.
Ia berkata padaku, “Pak Tony, kabar anda gimana? Apakah baik?”
Aku hanya membalas, “Aku baik, malaikat. Kita sedang perjalanan ke surga kan? Dimana Tuhan, aku sudah rindu dengannya.”
Ia tertawa dengan keras. Tiba-tiba, ia menaikkan diriku dan membuatku takjub. Aku seperti melihat pengadilan yang sangat unik. Ia terdiri dari banyak tirai-tirai kecil bagai ruang interogasi. Disana, ada dua pintu keluar. Mungkin satu arah ke Surga, satu ke arah Neraka. Suara tangisan penyesalan terdengar diantara mereka.
Aku kembali bertanya pada malaikat,”Disinikah pengadilan? Pintu mana menuju Surga?”.
Ia tertawa dengan sangat keras. Tiba-tiba ia berkata sambil tertawa “Bapak, di ruang UGD. Bapak belom mati. Siapa yang bilang bapa udah mati. Masuk pengadilan segala lagi.”
Mendengarnya, aku kaget dan bertanya pada dia, “Seharusnya aku bertemu dengan angel atau malaikat sekarang. Kok aku sekarang di UGD.” Sempat aku terpikir, bahwa malaikat bekerja di UGD untuk mengantar kepergian orangke Surga.
Ia kembali tertawa dan berkata, “Bapak Tony, tahu Angel ? Angel itu yang nyelamatin bapak tadi waktu ketabrak. Sebentar, saya panggil orangnya” Katanya smabil pergi meninggalkan aku.
Sekitar 1 menit kemudian, suster itu membawa seorang wanita cantik. Ia berambut panjang dan warnanya hitam lebat. Baju putih dan tercampur oleh lumuran cairan berwarna hitam. Mungkin lumuran itu darah. Tapi ia sangat cantik. Ia bagaikan silhouette yang indah. Au hanya bisa terdiam melihatnya. Meski aku tahu aku buta warna, tapi ia bagaikan warna-warni duniaku.
“Hai, nama saya Angel. Tadi saya kaget melihat kecelakaan anda dengan ibu anda. Jadi saya memutuskan membawa anda dengan ibu anda ke sini.”katanya dengan suara halus.
“Hai, namaku Tony. Kamu tahu tidak, kita ditakdirkan untuk bersama!” kataku sambil tertawa dan langsung menutup mulut setelah salah bicara.
“Maksudmu, apa?”katanya dengan senyum, seakan tahu maksudnya.
“Lihat, saja nanti angel. Kamu akan tahu suatu hari.” Kataku diiringi oleh tawa diriku.

TAMAT

Rabu, 07 Januari 2015

TERJEBAK


                Bayangkan, kau bangun dengan memiliki talenta yang sebuah hebat. Kau memiliki semua talenta. Ulangan fisika yang sesulit apapun kau dapat seratus. Pelajaran seni melukis yang kau tak bisa hari kemarin, ternyata mendapat seratus. Olahraga laripun yang hampir membuatmu sekarat, ternyata kau juga dapat seratus.
                Selain talenta, engkau juga menjadi orang yang sangat kaya raya. Uangmu berlimpah dan tak akan habis sampai dunia kiamat. Anakmu hidup bahagia. Rejeki sangat banyak sehingga tak bisa dihiutng jumlahnya. Apakah kau menjadi orang seperti ini?
                Mungkin ini aneh. Tapi, itu yang terjadi pada diriku. Sekarang, aku memiliki kekuatan super natural itu dengan kekayaan tak terhitung nilainya. Ini dia kisahku hari ini, mulai dari pagi hari sampai malam hari, aku menulis kisah ini.
                Saat aku bangun pagi, aku bangun dengan hidangkan cheeseburger dengan campuran daging kobe dan jamur truffle diatasnya. Hmm.., enak sekali rasanya bisa menikmati makanan itu. Padahal, kemarin aku hanya seorang manusia yang setiap pagi, makan nasi dan tempe orek.
                Setelah makan, aku bisa mandi di bathtub yang dilapisi emas. Air hangat sudah disiapkan oleh pembantu yang jumlahnya tak berhitung. Tinggal jalan dan masuk ke dalam bathub. Itu yang hanya kulakukan untuk hari ini. Lalu dari bathtub itu, aku bisa melihat pemandangan indah di luar sana lewat kaca satu arah. Sungguh menyenangkan dan mengasyikkan.
                Beberapa jam kemudian, aku hanya tinggal jalan ke sekolah internasional yang terkenal dengan murid-murid kelas kakap. Aku tak usaha membawa apa-apa, karena ada supir dan pembantu yang membawa tasku hingga ke dalam kelas. Meski hanya berjarak 2 menit dari rumah, aku tetap naik mobil mewah yang dikendarai supir. Kalau mobil rusak, maka supir dan beberapa pembantu menggendongku.
                Saat masuk sekolah, aku langsung dihormati bagaikan presiden. Murid-murid disana memang mengenal aku sebagai manusia muti talenta. Bisa bernyanyi, bisa bermain olahraga, dan pintar di segala bidang pelajaran. Aku selalu rangking pertama di satu angakatan selama 4 tahun berturut-turut. Jadi, mereka tak berani melawanku atau menghinaku.
                Siangnya, aku minta izin keluar sekolah. Dengan mudah, aku langsung keluar tak perlu surat izin yang ribet-ribet. Aku harus keluar karena mengikuti pertandingan badminton se-provinsi yang berada di dekat sekolah. Memang, lokasi sekolahku sangat strategis dan tak usah pergi jauh kemana-mana.
                Sampai disana, aku hanya melakukan pemanasan tanpa latihan. Badanku sudah siap untuk bermain. Lawanku katanya hebat. Tapi dia tak bisa menandingi diriku yang jauh lebih hebat darinya. Aku sudah tahu, bahwa dia akan kalah.
                Saat aku masuk lapangan, semua orang berteriak memanggil namaku. Mereka adalah fans setiaku yang jumlahnya tak terhitung. Mereka tahu bahwa aku akan selalu menang. Tak usah lomba provinsi, lomba nasionalpun aku memang juaranya.
                Setelah menunggu beberapa lama, pertandingan badminton dimulai. Aku bermain dengan santai dan relaks. Musuhku bermatian-matian mengejar shuttlecock yang hanya tinggal ku smash dengan mudah. Melawannya, keringatku hanya keluar sedikit.
                Akhirnya, pertandinganku menangi dengan mudah. Muncul angka 21-4, 21-3 di depan layar yang menunjukan kehebatanku melawannya. Fans-fansku berteriak dari luar lapangan. Aku hanya membalas senyuman dan membungkukan badan untuk menghormati mereka. Lalu, aku pergi meninggalkan lapangan untuk pergi ke pesta temanku di hotel mewah malam harinya.
                Malam hari, aku sudah tiba menuju pesta sweet seventeen temanku yang berada di hotel mewah di dekat rumahku. Aku diantar menggunakan mobil mewah. Aku menggunakan jas yang dibuat perancang terkenal, yang harganya berpuluh-puluh juta. Melihatnya, aku sangat bangga dengan diriku.
                Saat aku masuk ruangan, semua orang – orang mendekati diriku. Mereka takjub dengan diriku. Mereka terpesona melihat kegantengan diriku. Tetapi, aku tak memedulikan mereka. Mataku hanya tertuju kepada satu wanita cantik di atas tangga yang menuggu kehadiranku. Ia adalah pacarku.
                Ia sangat cantik. Kulitnya sangat putih dan matanya sangat indah. Itu merupakan pandangan pertama ku melihatnya. Ia bagaikan model cantik top dunia. Mimpinya akan semakin menjadi kenyataan bila ia menikah denganku. Karena kekayaanku, bisa membuatnya terkenal. Betul, kan?
                Kami menari di lantai dua sendirian. Yang lain, menemani kami di lantai satu. Mereka tak ada yang berani naik ke atas. Takut dipukul oleh bodyguardku yang sudah menungguku untuk menari dari tadi.
                Hari sudah sangat malam, pacarku letih sehingga aku mengantarnya pulang. Setelah ia pulang, gilaran aku yang pulang dan kembali ke rumah serba mewah itu. Tak dapat dipungkiri, aku memang tajir!
                Karena aku belum mengantuk, aku memutuskan kembali untuk mandi dengan air panas. Setelah mandi, aku memakai piyama yang ku beli di Paris seharga 1.5 juta. Lalu, aku tidur nyenak di kasur yang berbahan sutra sambil memikirkan hari esok yang past jauh lebih seru dari hari ini.
                Itu dia ceritaku. Cerita hari ini, yang pasti membuatmu iri,bukan? Aku berharap tidak. Ingatkah pada peribahasa “Tak ada gading yang tak retak” Peribahasa itu berarti, bahwa manusia selalu memiliki kelemahan masing-masing sama seperti diriku.
                Satu kelemahanku adalah cerita tadi hanyalah imajinasiku. Sebenarnya, realita berbanding 90 derajat dengan imajinasi. Aku hanya manusia biasa yang kurang berbakat dalam segala hal, tidak kaya, dan wanita idamanku sudah dimiliki orang lain.
                Dan hasilnya, satu setengah halaman kisah ini hanya memiliki 1 maksud yaitu Terjebak dalam Imajinasi. Aku terjebak.

TAMAT