Rabu, 28 Januari 2015

Statiun Kenangan


           Aku berjalan di koridor yang dipisahkan oleh rel kereta. Sambil berjalan, aku melihat banyak orang lalu lalang pergi dan masuk ke dalam kereta. Tak menghiraukannya, aku tetap berjalan melewati kerumunan orang – orang dan ditemani oleh awan – awan putih dengan langit biru yang cerah. Meski sendiri setiap kali aku ke sana, aku merasa ada orang yang menemaniku tak tahu kenapa.
            “ Tak, Tak, tak,” suara bunyi hentakkan sepatuku ditengah kerumunan hingga aku berhenti dan terbelenggu. Saat itu, aku hanya bisa memandang sebuah koridor sempit yang kosong tanpa kerumunan orang seperti biasanya. Saat aku melihat itu, aku selalu ingat kejadian 3 tahun lalu saat hari itu kita berpisah. Sejak kita berpisah, aku selalu terbelenggu oleh ingatan lama nostalgia antar kita bersama. Maka karena itu, saat orang menyebutnya Stasiun Gambir, aku menyebutnya stasiun Kenangan.
            Aku masih ingat bagaimana pertemuan kita 5 tahun lalu, waktu itu kau datang ke tempat kerjaku di sekitar Sudirman. Kau datang dengan membawa payung yang berwarna kuning kelabu karena pada saat itu tetesan air hujan membasahi bumi. Kau datang dengan membawa berkas-berkas yang berisi cerita hidupmu  mulai dari kecil hingga besar. Wajahmu manis, senyumanmu bagikan mentari di pagi hari. Itu yang membuatku selalu senang melihat wajahmu di setiap pagi dan senja.
            Kau lalu duduk di samping meja kerjaku karena mungkin sudah takdir kita untuk duduk sebelahan. Pertemuan itu akan selalu ku ingat, meski itu hanya sebuah sejarah.
            “Hai, nama kamu siapa?” Katanya dengan senyumannya yang manis
            “Namaku Thomas, namamu siapa ?“ kataku sambil membalas pertanyaan dia
            “Namaku Asri, senang bisa berkenalan denganmu”, Kata dia sambil memberi separuh tangannya kepadaku.
            “Hahaha, aku juga senang bisa berkenalan denganmu! “, kataku sambil memegang separuh tangannya.
            Itu pembicaraan kita untuk pertama kali. Meski kita cuma berbicara untuk beberapa ketukan waktu, tapi itu adalah merupakan pertemuan terindah sepanjang masa.  Saat kau bicara, kau membuatku bahagia dan girang. Kata-kata manismu membuatku tersenyum sampai aku tertidur di ranjang nan empuk di kamarku.
            Kau selalu ada di hatiku. Saat aku di manapun, aku selalu ingin bersamamu sampai empat paku menancap di petiku. Meski malam kita berpisah, aku selalu membayangkan dirimu selalu ada disampingku. Kau bagaikan sebuah pensil, aku adalah sebuah kertas. Kita saling membutuhkan dan seharusnya tidak dipisahkan
            Cerita manis kita telah berjalan selama beberapa bulan, banyak cerita yang kita torehkan berdua.  Memang aku tak pernah ingin mengungkapkan fakta ini terhadapmu. Aku takut bila aku berbicara jujur bahwa kau akan hilang tanpa pamit. Kau mungkin tidak akan pernah disamping sisiku.
            Suatu ketika saat makan siang, aku melihat Kau sangatlah murung. Kau seperti bukan kamu, semangatmu telah pudar . Akhirnya kau melihat mukaku, dan mulai melihatku dengan mata sedihmu. Aku tidak pernah mengerti maksud dari pandanganmu itu. Tapi aku tahu bahwa aku harus siap menerimanya meski hati tak terima.
            “Thomas…..”, Katamu dengan suara yang kecil bagaikan sepoi-sepoi angin di kemacetan Jakarta.
            “Kenapa, kamu stress dengan pekerjaan kantor?” Tanyaku sambil menunjukan muka kebingungan.
            “Bukan, tapi mungkin hari ini merupakan hari terakhir kita bersama. “ Katanya sambil menundukan kepalanya kebawah, menandakan akan adanya kesedihan diantara kita.
            “Hahahaha, kamu bercanda ya? “ Kataku sambil menunjukan muka tak percaya, meski dalam hatiku mulai ada awan kelabu yang menghampiri.
            “Bukan,  ini serius. Aku harus pergi pada esok hari. Aku dipindahkan ke Madiun.” katanya sambil melihat mukaku bagaikan anak kecil yang kehilangan ayahnya setelah bencana besar.
            “Hah? Kamu beneran akan pergi meninggalkan aku dan kita semua di sini” kataku sambil tergagap-gagap.
            “Iya”, katanya dengan sangat polos.
            Saat kau mengatakan itu, hatiku menangis. Aku sangat sedih dengan apa yang terjadi. Apakah ini nyata? Atau ini hanya mimpi burukku? Yang terpenting,  kau sebentar lagi akan tiada. Kau akan pergi untuk waktu yang tak akan kutahu. Kau akan menghilang dari sini.
            Jujur sekarang ini, aku sangat menyesal sekali bisa berkenalan denganmu. Seharusnya kita tak usah ditakdirkan bertemu denganmu. Seharusnya kau tak usah pernah kemari, bila kau hanya ada untuk menjadi kenangan . Sekarang aku harus menahan beban rasa sakit yang menderita karena kata-katamu tadi siang.
            Malam itu, kau mengirimkan pesan bahwa keretamu akan berangkat pada jam 11.00 siang. Aku tak membalas pesannya. Aku berniat untuk tidak bertemu dengan mu, karena kamu telah membuatku kecewa . Semakin aku sering bertemu denganmu, aku  takut akan semakin sakit dan tidak pernah merelakan hal ini terjadi.
            Sekarang ini aku tertekan dan tak bisa apa-apa. Aku tak tahan menahannya rasa sakit ini sendiri. Aku butuh teman yang mau menampung rasa sakit itu. Maka itu, aku berani mengirimkan pesan ke Josh untuk memberikanku saran mengenai apa yang harus kulakukan.
            Beberapa menit kemudian, aku mendengar bunyi hp-ku yang bendering dengan kencang. Aku melihat pesan Josh yang mengatakan. “Janganlah menghindar dari dia. Datanglah ke dia dan peluklah dia untuk terakhir kali. Memang dia hanya akan menjadi kenangan tapi kau harus membuatnya menjadi kenangan terindah. Aku percaya bahwa bila kau melakukan apa yang kukatakan  maka pada suatu hari kau akan dapat menerima semuanya.”
            Memang kata-kata Josh itu benar, tapi ada rasa takut yang menghilangkan nyali di dalam hatiku. Aku, Thomas yang merupakan pembaca puisi handal di sekolah saat SMA. Sekarang hanya bisa menjadi manusia penakut dan bersembunyi di kegelapan.
            Akhirnya aku memutuskan untuk bertemu dengannya di stasiun kereta. Meski itu berat, tapi seperti kata Josh hanya dia yang dapat mengeluarkan kenangan dalam diriku. Aku membutuhkan dia untuk menghilangkan racun atau rasa derita di dalam hatiku. Akupun juga telah membuat kado untuk Asri saat nanti kita bertemu di stasiun.
            Hari ini Minggu dan pukul jam 10 siang, aku sudah berada di stasiun sambil membawa kado yang telah kubuat dengan campuran rasa kangen dan kecewa yang berlebihan. Aku sudah menunggunya lama sekali, tapi iapun tak kunjung–kunjung datang. Aku mulai resah dan pasrah, suara hatiku mulai berbunyi dengan kencang bagaikan sebuah tanda yang kurang baik. Dan benar…, itu dia dengan membawa kopernya yang besar. Saat dia melihatku, dia berlari ke arahku dan memelukku dengan erat.
            Memang benar kata Josh, dipelukannya hatiku terasa nyaman dan tentram.Aku yang merasa tegang dan tertekan sejak kemarin, akhirnya mulai bisa menerima kenyataan saat di peluknya. Didalam pelukannya, aku merasa nyaman dan tenang.
            “Ternyata kau datang ke sini, aku pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi.” Katanya sambil bahagia.
            Aku tak bisa berkata apa-apa, maka aku hanya bisa tersenyum dan berkata “aku datang ke sini untuk membawa kado. Kado pertama dan terakhir yang kuberikan padamu. Mohon kadoku, diterima.”
            Pada waktu itu juga, ia membuka kadonya. Saat melihat isi dari kadonya, perlahan –lahan tetesan air matanya keluar dan ia memelukku lagi. Aku pun sejujurnya ingin menangis, tapi aku menahan rasa maluku dengan tersenyum. Memang kado itu, tidak pernah bisa dibeli oleh siapapun dan dimanapun ia berada. Kado itu bukan hanya berbentuk benda tetapi aslinya merupakan isi hatiku yang telah kecewa dengan apa yang terjadi.
Tak berapa lama setelah itu,aku dan kau mendengar bahwa sebentar lagi, kita akan berpisah. Kau akan masuk ke dalam duniamu yang baru dan penuh tantangan. Aku disini akan melaukan rutinitas seperti biasanya seperti tanpa kamu disampingku. Kau memegang tangan ku sambil masuk kedalam gerbong kereta berwarna merah itu. Sampai di dalamnya, kau melepaskan tanganku dan bertanya, “kapan kita akan bertemu lagi?” Aku hanya tersenyum dan berkata, “Hanya Tuhan yang tahu.”
Akhirnya pintu itu mulai tertutup  dan sebelum tutup untuk tertutup untuk selamanya, kau tersenyum terakhir kalinya padaku sambil berbisik kepadaku, bahwa aku merupakan sahanat terbaiknya . Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataanmu, meski hujan sudah turun di hatiku yang akan kesepian.
Matahari bersinar dengan terik. Terikannya yang biasa membuatku semangat melanutkan hari –hari sekarang telah menjadi sejarah. Keretamu mulai berjalan perlahan – lahan, disamping sana aku melihat tangisan seorang Bunda yang ditinggalkan anaknya. Aku juga melihat seorang anak kecil mengeluarkan jari imutnya untuk menandakan perpisahan dengan seseorang yang tak ku ketahui.
Kau yang ada di dalam kereta mulai mengeluarakan tetesan air mata. Setiap kali kamu merintikan air mata, itu merupakan beban yang terberat dalam hidupku. Tetapi aku terus tabah dalam menghadapi segala hal yang terjadi, kau pergi dan akan hilang dari hidupku. Kitapun tak akan pernah tahu kapan kita bertemu lagi.
Akhirnya, kereta itu telah pergi dari stasiun kira – kira pada pukul 12. Aku masih terbelenggu oleh kesedihan. Rasanya aku tak terima dengan keadaan ini. Tapi aku selalu ingat kata ibuku bahwa  aku harus tetap tersenyum meski harus menerima segala kenyataan. Akhirnya aku berjalan pergi meninggalkan koridor kereta yang menjadi tempat kenangan. Aku sudah tegar dalam menghadapi hal ini, air mataku ingin keluar tapi tak tahu mengapa aku tak sanggup mengeluarkan tetes air mata itu. Mungkin karena aku sudah kesakitan, maka tetesan air mataku keluar dari hatiku yang bercampur dengan darah.
Cerita itu sudah 3 tahun lamanya.  Saat aku menceritakan ini ke orang lain, maka mereka mengatakan bahwa ini adalah cinta monyet. Saat aku mendengarkan itu, aku hanya tertawa meski aku harus terpaksa bermuka dua karena  cerita itu tetap menjadi  ganjalan di hatiku. 
Tak terasa, aku telah terdiam selama 15 menit  sambil memikirkan kisah lama yang mungkin sudah kupikirkan beribu – beribu kali. Diantara ribuan orang lalang, aku hanya tetap melihat koridor itu. Koridor yang berisi ribuan cerita hidupku.
Aku tak tahu ia dimana, tetapi saat disana aku merasa ada bayangannya yang menunggu diriku untuk bertemu kembali. Akhirnya langit mulai menggelap, aku harus pulang ke rumahku.  Aku tersenyum sambil membalikkan diri dari koridor itu, dan mulai berjalan perlahan – lahan meninggalkan  koridor itu.
            Saat tiba di parkiran, aku mulai menaiki kendaraan mesin roda dua itu sambil melihat kecantikan stasiun itu. Stasiun itu yang ceritanya akan selaluku kenang. Karena itu aku menyebutnya Stasiun Kenangan.

Tamat

Tidak ada komentar: