Bayangkan kamu sekarang ada di
duniaku. Apa yang akan kamu pikirkan? Aku tahu. Kamu pasti memikirkan dunia
yang indah mungkin, perpaduan dinginnya puncak gunung dan kecantikan pantai
berpasir putih. Tapi sayangnya, pemikiranmu salah. Duniaku tidak seindah yang
kamu pikirkan. Duniaku hanya hitam dan putih.
Apakah
itu aneh? Menurutku tidak. Tapi semua orang bilang itu aneh. Aku sudah coba
membuktikannya. Aku sudah bertanya keorang tua, guru, dan teman yang sudah
pacar. Mereka selalu berkata bahwa dunia itu indah. Penuh warna-warni. Mereka
selalu menjelaskan hal yang sama. Mulai salju yang putih, spidol berwarna ungu,
baju warna merah, hingga langit berwarna biru.
Menurutku
mereka sudah gila. Di dunia ini, Cuma ada warna yaitu hitam dan putih. Apa
artinya biru? Apa artinya merah? Apa artinya ungu? Mereka sudah gila. Tapi kata
mereka, aku yang gila. Mereka bilang, bahwa duniaku belum berwarna karena ada
satu hal. Satu hal yang perlu kucari sendiri. Apakah hal itu? Anda tahu? Aku
tidak tahu sama sekali tentang satu hal itu.
***
Hari
ini, merupakan hari penantian bagi diriku. Umurku masih tinggal 40 menit. Ya,
cukup untuk berpikir tentang masa lalu. Aku tiduran sambil melihat
langit-langit indah yang merupakan gradasi warna gelap dan warna terang. Aku
sengaja mengunci kamarku yang penuh riasan hitam putih, meski kata ibuku
kamarku berwarna-warni. Ia baru mengakuinya tadi sore saat aku bicara
kepadanya.
Chip
ini masih mengalir dalam tubuhku. Chip sialan ini masih ada di tubuhku. Ia
merupakan mesin kecil yang merusak tubuhku. Karena dia, sekarang aku tahu
takdirku yang sebentar lagi akan terjadi. Oh, betapa malangnya nasibku.
40
menit hari ini, cukup mengingatkan masa laluku. Mungkin ini merupakan hal yang
akan kukenang sepanjang akhir hayat. Harapanku kepada Chip ini telah pupus tak
berarah.
Hari
ini, aku tertidur dan mengenang masa lalu ku.
***
“ Sabarlah, Ton. Gua tau hidup itu banyak warna.” Kata
temanku yang menyuruhku bersabar.
“Oh ya, sabar, sabar. Sabar itu warnanya apa ya? Biru atau
merah?” Kataku sambil menyoloti.
Dia hanya tersenyum. Dia bilang “Lu akan tahu suatu
hari. Besok lu 16 kan? Siap-siap ya,
ikut tes peneksasi ?” katanya sambil
mendorong pelan bahuku. “Eh gua pergi dulu, Soulmate gua udah cariin gua.”
Lanjutnya.
“Ya udah, pergi sono.” Kataku sambil tertawa.
Ia tertawa dan pergi.
Tes
peneksasi itu merupakan tes yang penting di duniaku. Tes ini khusus untuk anak
umur berumur 16 tahun. Saat tes ini, aku akan dimasukan sebuah cairan suntik ke
dalam arteri di dekat jantung. Cairan ini merupakan chip ajaib yang ada di
dunia kami. Ia bisa mendeteksi semua hal tanpa terkecuali.
Katanya
chip ini sangat hebat. Ia bisa mengubah segala hal. Katanya, ia bisa membuat
duniaku lebih warna-warni dengan satu sentuhan mesin kecil itu. Setiap kali
mendengarnya, aku semakin ingin muntah. Aku yakin chip ini merupakan senjata
yang sangat mematikan dibuat pemerintah, untuk menjaga perilaku kita.
Meski
kelihatan keren dan hebat, menurutku hal ini sangat aneh dan tolol. Chip ini
akan membuat para pemakainya muntah-muntah selama beberapa hari. Ia bagaikan
racun arsenic yang tidak bisa diidentifikasi oleh darah sekalipun.
Teman-temanku sudah menggunakan chip ini dan aku sudah lihat hasilnya. Ada yang
bilang membanggakan, ada yang bilang itu chip sialan.
Satu
hal yang kutahu, Chip ini akan membuat aliran listrik dalam tubuh kita. Chip
ini akan menunjukan sebuah waktu yang akan terus berjalan hingga menunjukan
0:00:00:00:00:00,0. Bila angka itu tercapai, maka ada sesuatu hal yang terjadi.
Apakah hal yang akan terjadi? Itu tergantung dari pemikiran terdalam setiap
orang. Bisa kematian, jodoh, kesuksesan, karir, dan lain-lain. Siapapun tidak
akan tahu sampai waktu di chip akan habis.
***
“Kamu siap nak ? Semoga duniamu menjadi lebih berwarna setelah
melakukan tes ini.” Kata ibuku sambil memegang erat tanganku.
“Iya, ma. Amin” kataku berbisik padanya.
Akhirnya,
dokterku membawaku kedalam ruang operasi khusus. Sebelum masuk ruang operasi,
aku sempat melihat belakang dan melambaikan tangan ke ibuku. Ibuku yang
berkulit hitam membalasnya. Dan seketika, ia menghilang setelah tirai berwarna
abu-abu (campuan hitam dan putih) menutupi pandanganku.
Sebelum
operasi, aku disuntik cairan bius yang berwarna putih. Cairannya sangat sakit dan
seketika membuatku pinsang sehingga aku tak bisa menceritakan apa-apa selama
operasi itu. Hanya warna putih yang kulihat di langit-langit mataku.
***
“Tek, tek, tek…..” itu merupakan
suara yang kudengar pertama kali setelah disuntik cairan itu. Mataku yang agak berair
mata akhirnya terbangun.
“Ma, aku udah tidur berapa hari.
Kepalaku mulai pecah. Sakau tuh chip.” Kataku sambil melihat kanan kiri.
“Hahahaha” ibuku hanya tertawa. Dan
keadaan menjadi hening tanpa suara.
Tiba-tiba, teriakkanku pecah saat melihat
tanganku. Di tanganku tertulis ANGEL dan waktu menunjukan 1:12:30:23:15:54,3
dan bergerak terus menerus.
“Ini artinya apa, ma” teriakku
dengan kaget.
Mamaku yang terkejut, berlari
keluar ruangan dan mencari dokter. Dalam sekejap, dokter langsung datang dan
membaca tanda itu. Ia terdiam sebentar dan berkata kepadaku, “Kamu akan menemui
Angel atau Malaikat dalam waktu 1 Tahun, 11 Bulan, 30 hari, 23 Jam, 15 Menit,
dan 54,3 detik lagi.” Katanya sambil tersenyum.
Aku kembali ingin bertanya kepada
dia kembali. Tapi tiba-tiba, ia memanggil mamaku dan menyuruhnya keluar.
Meski mereka keluar, aku bisa
mendengar tangisan bundaku. Ia tahu bahwa waktu itu akan menunjukan sebuah hal
yang sedih. Angel atau malaikat, bisa saja artinya bahwa 2 tahun lagi aku mati.
Apakah itu benar? Aku hanya bisa menunggu dan berharap bahwa angel memiliki
arti yang lain daripada kematian.
Beberapa menit kemudian, ibuku
masuk dan keadaan tanpa suara kembali muncul.
***
Seperti
yang kau tahu, chip itu benar-benar sialan. Hidupku tidak berubah, malah tambah
buruk. Hidupku tetap saja hitam dan putih. Tidak ada yang berubah. Hanya ada
satu yang berubah. Dulu, tubuh ini milikku sepenuhnya. Tapi sekarang, tubuhku
ini milik aku dan chip cacat yang ada di dekat jantungku.
Aku
juga semakin tidak mengerti dengan kegunaan chip ini. Dunia ini tetap hitam dan
putih. Tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh semua orang. Setiap kali, aku
bertanya pada ibuku, ia Cuma bisa tertawa dan berkata bahwa aku harus menerima
dan sabar. Pertanyaanku, sabar warnanya apa ya? Karena kalau bukan hitam dan
putih, itu tidak ada di kamusku.
Aku
juga coba bertanya kepada teman-temanku yang selalu memotivasiku. Mereka hanya
bisa terdiam tanpa suara. Itu saja.
“Bohong.
Kalian semua! Benar-benar, sialan chip ini”, ketusku sambil pergi meninggalkan
teman-temanku.
***
Aku
terbangun dengan dek-dekan setelah mengingat kata terakhir mimpiku. Tak terasa,
aku sudah tidur hampir 15 menit. Waktu yang sangat berharga bagiku. Sekarang
nyawaku tinggal 25 menit lagi. Sudah 3/8 nyawaku habis karena berpikir masa
lalu.
Nyawaku
tinggal 25 menit. Ya, tinggal 25 menit. Aku sedang memikirkan apa yang akan
kulakukan dalam 25 menit itu. Menulis puisi? Pastilah tidak cukup. Itu
memerlukan waktu setengah jam. Menembak wanita? Pasti tidak mungkin. Perlu 20
menit mengirim sms. Dan bila pun diterima, kami hanya berpacaran 5 menit.
Tiba-tiba,
ibuku memanggilku untuk turun ke bawah. Akhirya aku turun dan mungkin
percakapan terakhir, aku dan ibuku.
Ia berkata, “Sudah ke rumah sepupu dan teman ?”
Aku hanya menjawab, “Iya,ma!”
Memang,
pagi ini, aku memutuskan untuk pergi mengunjungi sanak saudara dan teman yang
berada di sekitar Jakarta. Ya, untuk bercakap-cakap sambil mengucapkan
kata-kata terakhir dan perpisahan untuk selamanya. Mungkin takdir kami, untuk
tidak bisa bertemu dan bekumpul bersama.
Untuk
mengenang hubunganku dengan sanak saudara dan teman-teman, aku membacakan puisi
nan indah. Judulnya “Hari Kematian”. Inilah Isinya
Pagi ini,
Aku
masih bisa melihat mentari pagi
Mendengar suara merdu
burung-burung murai
Melihat bunga Helantium Annus
menari
Merasakan sepoi-sepoi angin di
hangatnya matahari
Sekarang ini,
Aku masih bisa,
Mengucap
perpisahan
Membaca puisi yang tak indah,
Mengenang masa lalu yang tak
berarti lagi
Tapi,
Takdir berkata lain malam ini,
Kamar mewah dan baju piyama tak
akan pernah kupakai
Hanya gundukan tanah dan kain
kafan yang menemani
Mendengar puisi itu, tangisan mata
mereka yang berwarna putih jatuh di pipi mereka yang berwarna abu-abu di dunia
serba hitam dan putih. Meski sulit untuk melihat tangisan mereka, aku bisa
mendengar bunyi suara tangisan mereka. Aku tahu, mereka tetap berusaha tegar.
Tetapi takdirku sudah berkata lain.
Sejujurnya, aku tak taha melihat
mereka. Rasanya hati ingin menangis. Tapi, aku harus tetap sabar dalam
menghadapinya. Aku tak boleh menangis. Ini adalah takdirku. Aku harus
menerimanya meski merasa takut menghadapinya.
Karena itu, aku pergi meninggalkan
mereka dengan tetesan air mata yang jatuh ke lantai yang putih bagai awan. Aku
hanya berkata “terima Kasih” Lalu pergi meninggalkan tangisan yang telah
terliang dia mata mereka.
***
Saat aku masih
terbengong, mengingat kejadian tadi pagi, ibu tiba-tiba berkata“Hai, Ton. Ibu
mau bicara satu rahasia sebelum takdir mempertemukan kamu.”
“Apa bu? Tentang malaikat kematian yang menjemput? Aku sudah
tahu.”kataku sambil melihat ke langin nan putih.
“Bukan. Tapi tentang dunia hitam putihmu. Kamu tahu, bahwa
dunia hitam putih itu hanya sebuah kiasan yang digunakan oleh banyak orang.
Ton, duniamu tidak akan pernah warna warni. Kamu sudah buta warna dari
kecil.Kamu hanya bisa melihat hitam dan putih.” Katanya sambil terseduh. “Kamu
harus tahu bahwa duniamu tak akan pernah menjadi warna warni apabila kamu tak
pernah mau ingin merasakannya. Sebelum kamu menemui takdirmu, ibu berharap
bahwa kau menemukan dunia warna warni meski duniamu akan tetap hitam
putih.”kata ibuku sambil pergi meninggalkanku.
Mendengarnya,
awalanya aku merasa serba salah dan terbelenggu. Perasaan menyesal ada. Tapi
apa gunanya? 20 menit lagi, merupakan takdirku.
Bila aku menyesal, aku hanya kesal 20 menit. Tak ada yang berubah.
Takdir tetap saja sama. Yang penting, bagaimana aku menghabiskan waktu di sisa
hidupku.
Setelah
mendengar itu, aku kembali bersantai dan sambil mendoakan semua keluarga,
teman, dan orang-orang yang pernah membantuku. Di doa ini, untuk pertama
kalinya aku tersenyum dalam beberapa tahun terakhir ini. Aku merasa beruntung
memiliki mereka meski baru bisa bersyukur di detik-detik penantian terakhir.
20
menit kemudian,
“Ton, ton! Bangun. Rumah ini kebakaran !”, kata ibuku sambil
berteriak.
Aku
membuka kamarku dan melihat keadaan sekitar. Kobaran si jago merah telah hampir
membakar rumahku. Ibuku hanya berteriak dari bawah untuk memperingati diriku
agar keluar dari rumah. Meski aku tak ingin keluar, dan menunggu kematian, tapi
aku harus menyelamatkan beberapa harta dan ibuku. Aku merasa bahwa
menyelamatkan ibuku merupakan hal penting. Hidupnya masih berjutaan menit
sedangkan hidupku hanya tinggal 4 menit saja.
Aku langsung menyalakan mesin mobil
dan mengendarainya secepat mungkin untuk menyelamatkan aku dan ibuku. Rumah
kami tidak akan selamat sebab, rumah kami jauh dari rumah penduduk yang lain.
Ibuku melihat ke belakang sambil meneteskan air mata. Dengan mata kepalanya, ia
melihat rumahnya perlahan-lahan jatuh oleh kobaran api. Kejadian ini sangat
menyedihkan hatiku dan hati ibuku. Kami semua terpukul.
Tiba-tiba bunyi suara mesin
(bip,bip,bip) berbunyi. Aku kaget dan ingat dengan waktu di tanganku. Waktu itu
menunjukan 0:00:00:00:00:05,12 atau berarti 5 detik lagi nyawaku akan tamat.
Aku hanya terdiam melihat hal itu dan tersenyum.
DI
tengah senyum, ibuku berteriak “Awas!”Aku yang terkejut melihat ke depan. Aku
melihat pohon dan tiba-tiba,mataku tertutup dan suasana menjadi hening.
***
Setelah tertabrak pohon, aku tak
tahu apa yang terjadi. Tetapi tiba-tiba, mataku perlahan terbuka sedikit. Aku
melihat langit putih yang sangat bersih di atas. Tangan dan kakiku semuanya
kaku dan tak bergerak. Mataku hanya bisa melihat ke atas saja.
Tiba-tiba, aku mendengar bunyi
langkah kaki seseorang yang mungkin dinamakan Malaikat. Aku hanya bisa
tersenyum. Ia berdiri di sebelahku sambil menggunakan baju dan celana putih.
Sangat indah dan cantik.
Ia berkata padaku, “Pak Tony, kabar
anda gimana? Apakah baik?”
Aku hanya membalas, “Aku baik,
malaikat. Kita sedang perjalanan ke surga kan? Dimana Tuhan, aku sudah rindu
dengannya.”
Ia tertawa dengan keras. Tiba-tiba,
ia menaikkan diriku dan membuatku takjub. Aku seperti melihat pengadilan yang
sangat unik. Ia terdiri dari banyak tirai-tirai kecil bagai ruang interogasi.
Disana, ada dua pintu keluar. Mungkin satu arah ke Surga, satu ke arah Neraka.
Suara tangisan penyesalan terdengar diantara mereka.
Aku kembali bertanya pada malaikat,”Disinikah
pengadilan? Pintu mana menuju Surga?”.
Ia tertawa dengan sangat keras.
Tiba-tiba ia berkata sambil tertawa “Bapak, di ruang UGD. Bapak belom mati.
Siapa yang bilang bapa udah mati. Masuk pengadilan segala lagi.”
Mendengarnya, aku kaget dan bertanya
pada dia, “Seharusnya aku bertemu dengan angel atau malaikat sekarang. Kok aku
sekarang di UGD.” Sempat aku terpikir, bahwa malaikat bekerja di UGD untuk
mengantar kepergian orangke Surga.
Ia kembali tertawa dan berkata,
“Bapak Tony, tahu Angel ? Angel itu yang nyelamatin bapak tadi waktu ketabrak.
Sebentar, saya panggil orangnya” Katanya smabil pergi meninggalkan aku.
Sekitar 1 menit kemudian, suster
itu membawa seorang wanita cantik. Ia berambut panjang dan warnanya hitam
lebat. Baju putih dan tercampur oleh lumuran cairan berwarna hitam. Mungkin
lumuran itu darah. Tapi ia sangat cantik. Ia bagaikan silhouette yang indah.
Au hanya bisa terdiam melihatnya. Meski aku tahu aku buta warna, tapi ia
bagaikan warna-warni duniaku.
“Hai, nama saya Angel. Tadi saya
kaget melihat kecelakaan anda dengan ibu anda. Jadi saya memutuskan membawa
anda dengan ibu anda ke sini.”katanya dengan suara halus.
“Hai, namaku Tony. Kamu tahu tidak,
kita ditakdirkan untuk bersama!” kataku sambil tertawa dan langsung menutup mulut
setelah salah bicara.
“Maksudmu, apa?”katanya dengan
senyum, seakan tahu maksudnya.
“Lihat, saja nanti angel. Kamu akan
tahu suatu hari.” Kataku diiringi oleh tawa diriku.
TAMAT
1 komentar:
Cerita lu selalu tentang cinta ya? haha
-MKA
Posting Komentar