Sosok
mata kau sangat menggelora. Bibirmu sangat manis bagaikan tebu yang belum
disuling. Mataku sangat kecil sehingga banyak orang bilang kau sipit. Rambutmu
sangat indah karena mirip zebra yang katanya ada di barat sana.
Itulah
pandanganku pertama kali mengenai dirimu. Kau sangatlah cakep. Kau sangat
menawan. Mungkin tak ada yang tepat untuk mendefiniskan dirimu. Mungkin aku
bodoh. Ijazahku hanya tertulis SMP sehingga belum bisa untuk merangkai
kata-kata yang indah.
Aku
sangat terkejut melihat kau. Meski aku sudah berpuluh-puluh tahun naik
kendaraan ini, tetapi baru pertama kalinya aku melihat kau. Kau dengan jas dan
dasimu yang keren duduk diseberangku sambil melihat sebuah layar berbentuk
kotak yang disebut orang-orang IPhone.
Memang,
aku tak tahu mengapa kau disini. Tetapi aku tahu bahwalah kaulah yang terbaik
bagi diriku. Aku sudah mengenalmu sejak berthaun-tahun lalu saat kita masih
kecil. Apakah kau masih ingat dengan aku?
Dulu,
kita merupakan teman saat SMP. Memang, aku tak terlalu mengenalmu. Tapi aku
ingat, kau sangat cinta kepadaku. Bagaimana aku tahu? Kau yang mengatakannya
sendiri. Kau berkata bahwa aku dan kau merupakan sebuah pohon jati. Kau merupakan akarnya dan aku
merupakan kayunya. Lalu kau berkata juga, bahwa apabila kita bersama, maka kita
akan menjadi pasangan yang paling bahagia di dunia.
Ohh,
sungguh manis perkataanmu waktu dulu. Kata-katamu itu, membuatku merasa senang.
Kata-katamu adalah ganja bagiku. Aku sangat membutuhkannya meski harganya
sangat mahal. Tapi, apakah kau masih sayang kepadaku sekarang? Aku sungguh
berharap bahwa kau tetap memiliki rasa yang sama padaku.
Kita
merupakan satu horizontal. Sejarah mengatakan bahwa kita satu level yang paling
cocok. Seharusnya aku dan kau klop karena kita satu horizontal. Dan seharusnya
sekarang ini, kita bersama.
Saat
aku merenung melihatmu, tiba-tiba kau mematikan layar kotak itu dan melihat
diriku. Melihatku, kau tersenyum dan berkata “bagaimana kabarmu?”Aku hanya
terdiam tetapi lama kelamaan tersenyum “Aku baik, bagaimana dengan kamu?”. Kau
hanya tersipu malu dan berkata “Aku baik –baik saja.”. Lalu aku membalasnya
dengan senyuman.
Aku
tersenyum karena aku telah menemukan kau lagi. Aku selalu ingat dengan
kata-kata manismu mulai dari gombalanmu tentang pohon jati hingga kau
memberikan ku sebuah kain yang kau cium meski harganya Cuma 2000.
Saat
aku bernostalgia, tiba-tiba kau memegang pundakku dan berkata, “mengapa kau
terdiam ? Apakah kau lupa padaku? Apakah kau tak ingat sedikit masa nolstalgia
kita?” Mendengarnya, sekali lagi aku tersenyum meski sudah beribu kali
kulakukan sejak SMP. Aku berkata “ tidak, aku ingat kau. Kau merupakan teman
baikku bukan?”
Mendengarnya,
ia tertawa sangat keras hingga semua orang di kendaraan umum melihat kamu. Aku
hanya bisa tersenyum malu mendengar tawanya meski sejujurnya agak memalukan.
Setelah
kau berhenti tertawa, kau berkata padaku “hai kawan, aku rindu sekali padamu.
Sudah hampir 8 tahun kita tak bertemu. Aku pikir kau sudah lupa. Tetapi benar
kata orang, memori indah tak akan pernah dilupakan.”katanya dengan sangat
senang. Mendengarnya aku hanya terdiam.
Aku
sudah tak bertemunya sangat lama. Ingat aku hanya lulusan SMP. Meski setelah
lulusan SMP, aku tak bersekolah. Aku masih ingat bahwa kau setiap hari datang
ke rumahku untuk bermain bersama. Selama 2 tahun sejak lulus SMP, kau merupakan
pacar sekaligus teman baikku. Aku sangat senang dekat denganmu. Aku bisa terus
tersenyum meski aku tak bisa bersekolah lagi.
Senyum
manis itu berakhir 2 tahun kemudian. Saat kau pergi meninggalkan aku. Tanpa
nomor, tanpa cerita, tanpa perpisahan. Kau pergi langsung meninggalkanku. Kata
orang-orang, kau pergi ke SMA top di Jakarta setelah mendapatkan beasiswa
secara penuh. Sedangkan aku hanya bisa duduk diam. Menangisi keadaan dan
berusaha hidup tanpa dirimu. Dan itu akhir nostalgia dan ceritaku tentang
dirimu.
Saat
aku sedang asyik terdiam, tiba-tiba kau menyenggol aku dan berkata “Hei,
mengapa kamu? Mengapa kau sangat diam? Kitakan teman baik sejak dulu. Tak ada
yang bisa kau ceritakan atau kau tanyakan kepadaku?” katanya dengan senyum.
Mendengarnya,
aku langsung berkata “ada” tetapi setelah berkata “ada”, aku langsung menutup
mulutku untuk tidak menanyakan hal itu. Ya, aku harus bisa menutupi hasrat
ingin tahu itu.
Kau
kembali bertanya kepadaku, “ada? Ayo ceritakan saja kepadaku. Aku sekarang
orangnya terbuka. Sejak hidup di kota, aku hidup yang lebih baik. Sekolah yang
lebih baik, rumah yang lebih baik, dan pastinya pacar yang lebih baik”
Mendengar
kata “pacar”, tubuhku langsung meronta seakan merasa tak terima. Dahulu kau
berkata padaku bahwa kau cinta padaku. Tapi dimana cintamu? Aku tak mengerti
apa yang terjadi dengan dikau.
“Hmm,
pacar baru? Siapa pacar barumu?” kataku dengan kesal.
Kau
tersenyum bangga dan berkata “pacarku ini hebatloh. Ia kaya. Punya banyak
mobil. Hartanya sangat melimpah. Hatinya baik lagi. Sungguh senang aku bisa
bersamanya.”
Mendengar
itu, mataku tidak berani melihatmu. Aku lansgung membalikkan muka melihat
jendela transaparan. Lebih baik aku mendengar bunyi klakson mobil disebelahku
daripada mendengar buaianmu.
Aku tak
tahu bagaimana perasaanmu melihatku. Mungkin perasaanmu telah membatu. Atau
mungkin perasaanmu terlalu kaku untuk
menerima hatiku lagi.
Tiba-tiba,
tanpa sengaja, aku bertanya “ lalu, mengapa kau naik angkot? Kau kan sudah
kaya? Mengapa tidak membeli mobil BMW atau motor Harley yang katanya harga
miliaran?”
Kau
tersenyum dan mengubah pembicaraan,”Hahahaha, sebentar lagi aku turun. Mauku
antar?”
Mendengarnya
aku tertawa. Aku ingin menolak. Impuls menolak sudah kukirim dari otak ke
mulut. Tapi sayangnya, mulut berkata “iya”. Mungkin aku terlalu banyak bohong
terhadap diriku. Aku sejujurnya ingin tahu banyak hal tentang dirimu sekarang
ini.
Beberapa
detik kemudian, kau mengajakku turun dari angkotan bus yang kumuh itu. Lalu
beberapa detik kemudian, kau sudah mengajakku naik mobil BMW yang katanya
harganya beratus-ratus juta. Aku takjub melihat kekayaanmu. Cerita ini sudah
seperti drama saja.
Setelah
melihat mobil itu selama beberapa detik, kau mengajakku masuk ke dalam mobil
itu. Hmmm…. Wanginya sangat harum saat aku masuk. Kelihatan sekali, ini bukan
mobil murahan. Harganya pasti mahal.
Di
dalam perjalanan mengantar pulang, kau berkata padaku “Aku tahu kau sedih,
melihatku meninggalkanmu bukan? Tapi ini namanya hidup, Aku ingin hidup yang
lebih baik, bukannya kau juga ingin?”
“iya,
aku mengerti. Kau ingin meningkatkan kelasmu bukan?kau malu suka dengan orang
yang level lebih rendahkan? Dasar kau lelaki bajingan.” Kataku agak sedikit
kesal sambil membuang muka ke jendela. Sejujurnya , aku ingin keluar dari mobil
tapi aku tak mengenal jalan itu sehingga aku harus ikut dengannya.
“Iya,
terserah apa katamu. Kau akan mengerti suatu hari bahwa level atau kelas lebih
penting dari cinta. Tanpa peningkatan kelas, kau tak akan bisa hidup dengan
bahagia. Itu merupakan pelajaran yang kau harus petik bila tinggal di kota.”
Katanya sambil tertawa.
Mendengarnya,
aku hanya terdiam dan mobil tetap terus berjalan hingga suatu saat kau
memberhentikan mobil dan berkata,”tunggu sebentar, aku harus menjemput pacarku
disini. Mungkin sebentar lagi akan datang,” katanya sambil melihat-lihat ke
jendela.
Aku
hanya mengangkat jempol tetapi tak melihat mukanya. Aku sangat keasl dengan
lelaki bajingan itu. Bila aku telah sampai ke rumah, aku akan pergi dan
berharap tak bertemu dengan dia lagi.
Beberapa
menit kemudian, tiba-tiba ada seorang wanita muda yang cantik jalan ke mobilku.
Melihatnya, aku kaget karena tak percaya bahwa ia bisa ditipu dengan lelaki
bajingan itu. Ada perasaan ingin menonjok kau karena sikapmu sudah keterlaluan.
Wanita
itu masuk ke dalam mobil. Ia bingung melihatku sambil bertanya, “ini siapa,
pa?”. Kau hanya menjawab “ini temanku masa kecil. Aku mau mengantarnya pulang.
Sudah lama, aku tak berbicara kepadanya.”
Wanita
itu tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dengan paksaan.
Beberapa
menit kemudian, ada seorang wanita tua yang berjalan menuju mobil. Mukanya
sudah kelihatan seperti orang 50-an. Tetapi akibat dari riasannya yang sangat
menor, ia masih kelihatan sangat muda. Ia berjalan dengan lemah gemulai dengan high heels yang tinggi itu. Mungkin
sekitar 4-5 cm.
Tiba-tiba
saja kau keluar di mobil. Menyapanya lalu mencium keningnya dihadapanku. Hatiku
merasa sakit melihat itu. Rasanya aku bisa mati terkena serangan jantung.
Aku
berkata dalam hati,”Dimanakah rasa cintamu yang dulu sayang? Katanya, kau
selalu cinta padaku. Kau berkata bahwa kita bagaikan pohon jati yang kokoh. Kau
bilang bahwa kau akan mencintaiku selamanya. Tapi dimanakah kau sekarang?
Apakah dirimu yang asli sudah mati karena uang dan kekuasaan?”
Perlahan
–lahan karena sakit, aku memutuskan membuka mobil dan belari keluar
meninggalkan mereka semua. Aku tahu bahwa orang yang dicintai telah pergi
karena memilih kekayaan dan kekuasaan daripada rasa kasih sayang sebenarnya.
Hari
itu merupakan hari tersial dalam hidupku. Aku pulang naik taksi dengan ongkos
yang sangat mahal. Uang itu menghabiskan uang makan sehariku. Tetapi yang lebih
membuatku sakit adalah bahwa kau mencintai orang bukan karena cinta tapi karena
uang.
Sekarang
aku mengerti sayang, bahwa duniamu berbeda dengan duniaku. Kau lebih memilih
orang yang level diatasku, meski aku yakin bahwa kau tak mencintainya. Sedangkan
aku yang kau cintai, yang berada di level bawah, malah kau singkirkan dalam
hidupmu.
"maafkan aku sayang, karena levelku dengan levelmu berbeda.”,
kataku sambil mengeluarkan air mata.