Rabu, 18 Maret 2015

Level


                Sosok mata kau sangat menggelora. Bibirmu sangat manis bagaikan tebu yang belum disuling. Mataku sangat kecil sehingga banyak orang bilang kau sipit. Rambutmu sangat indah karena mirip zebra yang katanya ada di barat sana.
                Itulah pandanganku pertama kali mengenai dirimu. Kau sangatlah cakep. Kau sangat menawan. Mungkin tak ada yang tepat untuk mendefiniskan dirimu. Mungkin aku bodoh. Ijazahku hanya tertulis SMP sehingga belum bisa untuk merangkai kata-kata yang indah.
                Aku sangat terkejut melihat kau. Meski aku sudah berpuluh-puluh tahun naik kendaraan ini, tetapi baru pertama kalinya aku melihat kau. Kau dengan jas dan dasimu yang keren duduk diseberangku sambil melihat sebuah layar berbentuk kotak yang disebut orang-orang IPhone.
                Memang, aku tak tahu mengapa kau disini. Tetapi aku tahu bahwalah kaulah yang terbaik bagi diriku. Aku sudah mengenalmu sejak berthaun-tahun lalu saat kita masih kecil. Apakah kau masih ingat dengan aku?
                Dulu, kita merupakan teman saat SMP. Memang, aku tak terlalu mengenalmu. Tapi aku ingat, kau sangat cinta kepadaku. Bagaimana aku tahu? Kau yang mengatakannya sendiri. Kau berkata bahwa aku dan kau merupakan sebuah  pohon jati. Kau merupakan akarnya dan aku merupakan kayunya. Lalu kau berkata juga, bahwa apabila kita bersama, maka kita akan menjadi pasangan yang paling bahagia di dunia.
                Ohh, sungguh manis perkataanmu waktu dulu. Kata-katamu itu, membuatku merasa senang. Kata-katamu adalah ganja bagiku. Aku sangat membutuhkannya meski harganya sangat mahal. Tapi, apakah kau masih sayang kepadaku sekarang? Aku sungguh berharap bahwa kau tetap memiliki rasa yang sama padaku.
                Kita merupakan satu horizontal. Sejarah mengatakan bahwa kita satu level yang paling cocok. Seharusnya aku dan kau klop karena kita satu horizontal. Dan seharusnya sekarang ini, kita bersama.
                Saat aku merenung melihatmu, tiba-tiba kau mematikan layar kotak itu dan melihat diriku. Melihatku, kau tersenyum dan berkata “bagaimana kabarmu?”Aku hanya terdiam tetapi lama kelamaan tersenyum “Aku baik, bagaimana dengan kamu?”. Kau hanya tersipu malu dan berkata “Aku baik –baik saja.”. Lalu aku membalasnya dengan senyuman.
                Aku tersenyum karena aku telah menemukan kau lagi. Aku selalu ingat dengan kata-kata manismu mulai dari gombalanmu tentang pohon jati hingga kau memberikan ku sebuah kain yang kau cium meski harganya Cuma 2000.
                Saat aku bernostalgia, tiba-tiba kau memegang pundakku dan berkata, “mengapa kau terdiam ? Apakah kau lupa padaku? Apakah kau tak ingat sedikit masa nolstalgia kita?” Mendengarnya, sekali lagi aku tersenyum meski sudah beribu kali kulakukan sejak SMP. Aku berkata “ tidak, aku ingat kau. Kau merupakan teman baikku bukan?”
                Mendengarnya, ia tertawa sangat keras hingga semua orang di kendaraan umum melihat kamu. Aku hanya bisa tersenyum malu mendengar tawanya meski sejujurnya agak memalukan.
                Setelah kau berhenti tertawa, kau berkata padaku “hai kawan, aku rindu sekali padamu. Sudah hampir 8 tahun kita tak bertemu. Aku pikir kau sudah lupa. Tetapi benar kata orang, memori indah tak akan pernah dilupakan.”katanya dengan sangat senang.  Mendengarnya aku hanya terdiam.
                Aku sudah tak bertemunya sangat lama. Ingat aku hanya lulusan SMP. Meski setelah lulusan SMP, aku tak bersekolah. Aku masih ingat bahwa kau setiap hari datang ke rumahku untuk bermain bersama. Selama 2 tahun sejak lulus SMP, kau merupakan pacar sekaligus teman baikku. Aku sangat senang dekat denganmu. Aku bisa terus tersenyum meski aku tak bisa bersekolah lagi.
                Senyum manis itu berakhir 2 tahun kemudian. Saat kau pergi meninggalkan aku. Tanpa nomor, tanpa cerita, tanpa perpisahan. Kau pergi langsung meninggalkanku. Kata orang-orang, kau pergi ke SMA top di Jakarta setelah mendapatkan beasiswa secara penuh. Sedangkan aku hanya bisa duduk diam. Menangisi keadaan dan berusaha hidup tanpa dirimu. Dan itu akhir nostalgia dan ceritaku tentang dirimu.
                Saat aku sedang asyik terdiam, tiba-tiba kau menyenggol aku dan berkata “Hei, mengapa kamu? Mengapa kau sangat diam? Kitakan teman baik sejak dulu. Tak ada yang bisa kau ceritakan atau kau tanyakan kepadaku?” katanya dengan senyum.
                Mendengarnya, aku langsung berkata “ada” tetapi setelah berkata “ada”, aku langsung menutup mulutku untuk tidak menanyakan hal itu. Ya, aku harus bisa menutupi hasrat ingin tahu itu.
                Kau kembali bertanya kepadaku, “ada? Ayo ceritakan saja kepadaku. Aku sekarang orangnya terbuka. Sejak hidup di kota, aku hidup yang lebih baik. Sekolah yang lebih baik, rumah yang lebih baik, dan pastinya pacar yang lebih baik”
                Mendengar kata “pacar”, tubuhku langsung meronta seakan merasa tak terima. Dahulu kau berkata padaku bahwa kau cinta padaku. Tapi dimana cintamu? Aku tak mengerti apa yang terjadi dengan dikau.
                “Hmm, pacar baru? Siapa pacar barumu?” kataku dengan kesal.
                Kau tersenyum bangga dan berkata “pacarku ini hebatloh. Ia kaya. Punya banyak mobil. Hartanya sangat melimpah. Hatinya baik lagi. Sungguh senang aku bisa bersamanya.”
                Mendengar itu, mataku tidak berani melihatmu. Aku lansgung membalikkan muka melihat jendela transaparan. Lebih baik aku mendengar bunyi klakson mobil disebelahku daripada mendengar buaianmu.
                Aku tak tahu bagaimana perasaanmu melihatku. Mungkin perasaanmu telah membatu. Atau mungkin  perasaanmu terlalu kaku untuk menerima hatiku lagi.
                Tiba-tiba, tanpa sengaja, aku bertanya “ lalu, mengapa kau naik angkot? Kau kan sudah kaya? Mengapa tidak membeli mobil BMW atau motor Harley yang katanya harga miliaran?”
                Kau tersenyum dan mengubah pembicaraan,”Hahahaha, sebentar lagi aku turun. Mauku antar?”
                Mendengarnya aku tertawa. Aku ingin menolak. Impuls menolak sudah kukirim dari otak ke mulut. Tapi sayangnya, mulut berkata “iya”. Mungkin aku terlalu banyak bohong terhadap diriku. Aku sejujurnya ingin tahu banyak hal tentang dirimu sekarang ini.
                Beberapa detik kemudian, kau mengajakku turun dari angkotan bus yang kumuh itu. Lalu beberapa detik kemudian, kau sudah mengajakku naik mobil BMW yang katanya harganya beratus-ratus juta. Aku takjub melihat kekayaanmu. Cerita ini sudah seperti drama saja.
                Setelah melihat mobil itu selama beberapa detik, kau mengajakku masuk ke dalam mobil itu. Hmmm…. Wanginya sangat harum saat aku masuk. Kelihatan sekali, ini bukan mobil murahan. Harganya pasti mahal.
                Di dalam perjalanan mengantar pulang, kau berkata padaku “Aku tahu kau sedih, melihatku meninggalkanmu bukan? Tapi ini namanya hidup, Aku ingin hidup yang lebih baik, bukannya kau juga ingin?”
                “iya, aku mengerti. Kau ingin meningkatkan kelasmu bukan?kau malu suka dengan orang yang level lebih rendahkan? Dasar kau lelaki bajingan.” Kataku agak sedikit kesal sambil membuang muka ke jendela. Sejujurnya , aku ingin keluar dari mobil tapi aku tak mengenal jalan itu sehingga aku harus ikut dengannya.
                “Iya, terserah apa katamu. Kau akan mengerti suatu hari bahwa level atau kelas lebih penting dari cinta. Tanpa peningkatan kelas, kau tak akan bisa hidup dengan bahagia. Itu merupakan pelajaran yang kau harus petik bila tinggal di kota.” Katanya sambil tertawa.
                Mendengarnya, aku hanya terdiam dan mobil tetap terus berjalan hingga suatu saat kau memberhentikan mobil dan berkata,”tunggu sebentar, aku harus menjemput pacarku disini. Mungkin sebentar lagi akan datang,” katanya sambil melihat-lihat ke jendela.
                Aku hanya mengangkat jempol tetapi tak melihat mukanya. Aku sangat keasl dengan lelaki bajingan itu. Bila aku telah sampai ke rumah, aku akan pergi dan berharap tak bertemu dengan dia lagi.
                Beberapa menit kemudian, tiba-tiba ada seorang wanita muda yang cantik jalan ke mobilku. Melihatnya, aku kaget karena tak percaya bahwa ia bisa ditipu dengan lelaki bajingan itu. Ada perasaan ingin menonjok kau karena sikapmu sudah keterlaluan.
                Wanita itu masuk ke dalam mobil. Ia bingung melihatku sambil bertanya, “ini siapa, pa?”. Kau hanya menjawab “ini temanku masa kecil. Aku mau mengantarnya pulang. Sudah lama, aku tak berbicara kepadanya.”
                Wanita itu tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dengan paksaan.
                Beberapa menit kemudian, ada seorang wanita tua yang berjalan menuju mobil. Mukanya sudah kelihatan seperti orang 50-an. Tetapi akibat dari riasannya yang sangat menor, ia masih kelihatan sangat muda. Ia berjalan dengan lemah gemulai dengan high heels yang tinggi itu. Mungkin sekitar 4-5 cm.
                Tiba-tiba saja kau keluar di mobil. Menyapanya lalu mencium keningnya dihadapanku. Hatiku merasa sakit melihat itu. Rasanya aku bisa mati terkena serangan jantung.
                Aku berkata dalam hati,”Dimanakah rasa cintamu yang dulu sayang? Katanya, kau selalu cinta padaku. Kau berkata bahwa kita bagaikan pohon jati yang kokoh. Kau bilang bahwa kau akan mencintaiku selamanya. Tapi dimanakah kau sekarang? Apakah dirimu yang asli sudah mati karena uang dan kekuasaan?”
                Perlahan –lahan karena sakit, aku memutuskan membuka mobil dan belari keluar meninggalkan mereka semua. Aku tahu bahwa orang yang dicintai telah pergi karena memilih kekayaan dan kekuasaan daripada rasa kasih sayang sebenarnya.
                Hari itu merupakan hari tersial dalam hidupku. Aku pulang naik taksi dengan ongkos yang sangat mahal. Uang itu menghabiskan uang makan sehariku. Tetapi yang lebih membuatku sakit adalah bahwa kau mencintai orang bukan karena cinta tapi karena uang.
                Sekarang aku mengerti sayang, bahwa duniamu berbeda dengan duniaku. Kau lebih memilih orang yang level diatasku, meski aku yakin bahwa kau tak mencintainya. Sedangkan aku yang kau cintai, yang berada di level bawah, malah kau singkirkan dalam hidupmu.

              "maafkan aku sayang, karena levelku dengan levelmu berbeda.”, kataku sambil mengeluarkan air mata.