Rabu, 31 Desember 2014

The Moving Train

Pukul tujuh lewat sepuluh, bel berbunyi. Anak-anak diluar kelas kembali masuk ke kelas untuk memulai pelajaran. Meski matahari belum seutuhnya keluar dan embun pagi masih bersahaja, mereka semua tetap bersemangat masuk sekolah.
Hari ini merupakan hari pertamaku masuk sekolah. Meski otak masih berjalan-jalan di dunia mimpi, tapi ada setan yang memaksaku bangun dari realita yaitu ayah dan ibu. Keadaan di kelas sebelas, terasa lebih berbeda dari kelas 10. Teman-temannya berbeda, guru berbeda, dan suasana kelasnya pun berbeda.
Namaku Ravelto. Aku duduk di kelas 11 A1. Kelas ini dipimpin oleh Bu Carol. Aku sudah mengenalnya ibundaku dari dulu. Ia pernah mengajariku kelas 10. Lalu ketua kelas dipimpin pasquale yang merupakan temanku sejak kelas 10. Saya sudah mengenalnya dari dulu.
Tak disangka, hari ini bu Carol datang dengan gembira. Ia datang dengan membawa seorang anak muda bekulit putih. Tiba-tiba, bu Carol berkata “Hai, murid-murid! Perkenalkan hari ini kita kedatangan murid baru, namanya Nasya.” Melihatnya, kami bertepuk tangan sambil ia berjalan ke kursi yang disiapkan untuknya.
Saat aku melihat Nasya, ia mengingatkanku sesuatu. Mukanya mirip seperti orang yang kutemui dalam sebuah perjalanan kereta yang mengakibatkan kecelakaan. Tapi saat berpikir hal itu, aku coba mengelak dan berkata bahwa ia sudah tiada.
Karena hari ini merupakan hari pertama sekolah, bu Carol meminta kami semua untuk menceritakan pengalamannya masing-masing saat liburan. Dia melihat satu persatu muridnya untuk maju duluan. Tiba-tiba, ia melihat kepadaku dan bertanya sambil bersenyum,”Ravelto”. Aku yang tadi sedang bengong, akhirnya kaget. Aku berkata, “Kenapa, bu?” Ia hanya tersenyum dan berkata “Silakan Maju”.
Karena terpaksa, aku maju ke depan kelas. Sambil grogi, aku mulai berusaha memikirkan cerita apa yang harus kuceritakan. “Aduh, otak ! Jangan error, dong!”kataku dalam hati. Aku berusaha berpikir untuk menemukan hal yang diceritakan. Tapi sampai di depan, pikiranku masih kosong dan akhirnya lku terdiam.
Di depan kelas, aku hanya terbengong dan berpikir sesuatu. Teman sekelasku mulai bengong melihatku. Bu Carol sudah melotot melihatku. Aku mulai keringat dingin, dan terus mencoba berpikir. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu cerita! Cerita tentang kecelakaan kereta yang terjadi beberapa tahun lalu.
Setelah terdiam untuk menyusun kata, aku menaikkan kepalaku yang sudah menunduk. Aku mulai berkata,” hai kawan-kawan, hari ini saya akan menceritakan cerita pengalaman saya.” Aku menunduk lagi dan terdiam. Setelah beberapa lama, aku kemali menaikkan kepalaku dan tersenyum. “Inilah ceritaku”, kataku.
Cerita dimulai saat aku harus pulang sendiri naik kereta dari Solo ke Bandung. Tak ada teman, tak ada orang tua. Teman-temanku sudah pulang terlebih dahulu naik bus ke Jakarta. Sedangkan, aku harus pergi ke Bandung terlebih dahulu unutuk menjemput ayah dan ibuku.
Hari itu, statiun sangatlah ramai. Orang-orang berjalan dari dua arah berlawanan yang berbeda dengan dua tujuan yang berbeda juga. Kebisingan statiun sangatlah terdengar. Bunyi rem dan bel kereta terdengar keras. Masinis sedang mengambil tiket-tiket dari penumpang. Sampah-sampah botol berserakan di lantai meski ada beberapa yang ditaruh dalam tong sampah.
Diantara jutaan manusia yang masuk dan keluar kereta, aku hanya sendiri. Dengan satu tiket harapan, yang membawaku ke tempat tujuan yaitu Bandung. Perjalanan ke Bandung sekitar 5 jam. Berarti ada perjalanan 5 jam keheningan, bukan?
Saat menunggu, aku duduk di serambi kereta. Tiba-tiba, alat pengeras suara diatasku berbunyi. Ia berkata “Selamat pagi. Kami ingin mengumumkan bahwa kereta jurusan Solo Balapan – Jakarta Gambir telah datang. Bagi penumpang yang menggunakan kereta ini. Silakan pergi ke peron B. Terima Kasih.”
Mendengar hal itu, aku langsung pergi ke peron B dan memberikan tiket karcis kepada masinis. Masinis itu bingung melihatku. Ia merasa bahwa aku terlalu kecil untuk naik kereta sendirian. Mukanya menunjukan rasa simpati seperti aku anak yatim piatu saja.
Setelah melihat tiket itu, ia membalikkannya kepadaku. Aku mengambilnya dengan muka ketus sambil masuk ke dalam gerbong kereta. Aku langsung duduk di kursi paling dekat dengan pintu kereta supaya nanti bisa keluar dari kereta secepatnya. Aku tak tertarik orang-prang sekitar. Menurutku, mereka (orang-orang kereta) kelihatan membosankan. Individualisme dan egoisme sangat terlihat di muka mereka.
Aku duduk sendirian di sana. Sampai kereta mau jalan, aku tetap sendirian. Mungkin perjalanan keheningan yang sangat kuimpikan akan tercapai. Aku bisa duduk sendiri menikmati hamparan sawah ditemani kopi yang pasti akan kubeli sewaktu perjalanan. Ah, alangkah enaknya.
Saat pintu kereta itu mulai perlahan-lahan tertutup, aku melihat seorang wanita belia,lari menuju keretaku. Ia datang dengan tergesa-gesa sambil membawa tas selempang berwarna merah. Ia masuk kereta dan tanpa melihat keadaan kereta yang masih agak kosong, ia langsung duduk di seberangku. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung duduk bagai tak ada orang di depannya.
Dalam waktu sebentar, kereta mulai tertutup. Bel kereta mulai berbunyi dan roda kereta mulai bergerak secara perlahan-lahan. Lama-kelamaan, kereta mulai bergerak dengan cepat dan pergi meninggalkan statiun balapan.
Di perjalanan, aku hanya bisa menikmati hamparan sawah yang sangat luas dan indah. Aku melihat para petani yang sedang mencangkul tanahnya. Meski mukanya tak terlihat, aku bisa membayangkan muka mereka yang lesu dan capai untuk mengoyak tanah sebanyak itu. Dielakang para petani, terdapat bukit-bukit yang menjulang dengan tinggi. Seolah ada pemandangan bersetetika tinggi yang bernilai mahal untuk digambar. Ia bagaikan lukisan cantik nan indah.
Tetapi, namanya lukisan juga lukisan. Pemandangan skeptis itu tidak berubah selama satu jam di dalam kereta.  Akhirnya, timbullah kebosanan yang sangat parah. Memang, aku merupakan orang yang bertipikal mudah bosan dan tidak suka dengan hal yang sama secara terus menerus.
Untuk mengurangi kebosanan, aku mulai bermain dengan diriku sendiri. Aku seperti merealitaskan dunia imajinasiku dengan berbicara satu arah. Arah itu diputar 360®, sehingga menunjuk diri sendiri yang juga sedang berbicara. Meski keliatan aneh dan agak tolol, tapi sesungguhnya ini hanya untuk mengurangi kebosananku yang telah memuncak.
Drama kecil dengan puluhan tokoh dengan satu  pemeran telah menarik simpati tetanggaku. Ia tersenyum padaku dan tertawa kecil-kecil seakan menghina diriku. Melihatnya, mukaku menjadi ketus dan berhenti melakukan drama yang baru masuk tahap konflik.
Setelah berhenti melakukan drama, ia bertanya kepadaku “Adek sedang ngapain, drama kamu rasanya seru tuh. Ternyata kamu juga bakat lakuin drama. Jadi guru TK aja, pasti semua anak suka.” katanya diiringi tawa besar.
“Iya, Makasih tante. Sarannya bagus.”kataku sambil menitik beratkan kata Makasih. Lalu, aku  membuang muka dari mukanya seakan kesal dengan perkataan dia. Melihat itu, dia berkata “Ah, sorry! Cuma bercanda.” Lalu aku berkata dengan tersenyum, “Ia gapapa”.
Lalu keadaan kembali hening tanpa suara.
Setelah itu, aku kembali melihat pemandangan yang berestetika mulai tak jelas. Pemandangan gunung-gunung dan petani yang masih tradisonal mulai menghilang diganti dengan pemandangan kota-kota yang bergaya semi-modern. Perpaduan pemandangan tradisional dan semi modern ini sungguh sangat baik. Ia seperti lukisan yang sering kulihat di eksibisi besar di mal-mal kakap di Jakarta. Sungguh pemandang yang cantik.
Saat sedang mengamati lukisan ciptaan Tuhan yang cantik nan indah, tiba-tiba , aku mendengar tawa cecicikan dari wanita sebelahku. Tawanya sangat mengangguku sampai aku tak bisa fokus melihat mahakarya ciptaan Tuhan. Karena menganggu, aku langsung membalikan muka dan melihatnya. Ia kaget dan hanya terdiam meski sambil menahan tawanya yang ingin keluar.
Melihatnya, aku pun bertanya, “Kenapa ketawa?”
Ia hanya terdiam sambil tetap menulis. Lalu beberapa detik kemudian, ia berkata,”Saya sedang menulis. Bolehkah, saya menulis tentang anda di cerita ini?” katanya agak ketakutan.
Aku tersenyum dan berkata, “boleh, royaltinya berapa ?”
Wanita itu tertawa setelah mendengar apa yang tadi kukatakan. Ia berkata “Boleh, bila cerpennya nanti sukses.”Ia terdiam sebentar, dan kembali bertanya “Anda pelukis?”.
“Bukan, aku hanya pengagum mahakarya buatan Tuhan. Dulu, aku pernah berusaha menjadi penulis. Tapi sayangnya gagal. AKu tak bisa menafsrikan kata-kata indah.”kataku sambil memurungkan kepala.
“Ohh…., sayang sekali. Saya malah baru mau menjadi penulis setelah membaca novel Agatha Christie? Apakah anda kenal dia?, katanya dengan senyum.
Mendengar kata Agatha Christie, aku langsung kaget. Tak terbayang di otakku, bahwa ia suka dengan Agatha Christie. Dari mukanya, ia terlihat seperti pembaca novel romantis senjati. Bukan Novel Detektif seperti Agatha Christie.
“Oh.. YA YA ! Saya sangat ngefans sama dia. Buku saya sudah lengkap semua. Saya sudah baca bukunya beribu-ribu kali sampai hafal jalan ceritanya. Tapi, saya selalu sulit menebak pelakunya. Hahahaha(tertawa)” kataku sambil tertawa.
            Karena pembicaraan Agatha Christie, selama 2 perjalanan penuh, saya banyak bercerita dengannya. Suasana hening yang kuimpikan dengan kopi pecah karena pertemuan dengannya. Drama yang tadinya hanya satu pemeran sekarang menjadi dua. Pembicaraan telah menjadi dua arah dengan alur cerita sangat seru. Mungkin drama ini, akan sebentar lagi telah mencapai klimaks.
            Ditengah perjalanan seru, tiba-tiba toak yang berada di tengah gerbong berbunyi. Ditengah banyak orang, ia berteriak “Para Penumpang yang terhormat, sebentar lagi kereta akan sampai di statiun Hall. Bagi penumpang, yang telah sampai pada tujuannya , silakan turun. Terima kasih dan semoga selamat sampai tempat tujuan.”
            Mendengar hal itu, aku berkata kepada wanita muda yang mungkin seusia denganku bahwa aku harus pergi. Aku juga berterima kasih kepadanya karena pembicaraan hari itu yang menyenangkan. Tapi sebelum aku pergi, ia menarik tanganku dan berkata
            “Eh sebelum anda pergi, saya ingin bertanya satu hal kepada Anda. Boleh?” Tanyanya.
            “Boleh, silakan.” kataku dengan senyum.
            “Apakah pembicaraan hari ini, boleh saya jadikan cerpen? Bila boleh, tolong kasih saya judul yang bagus buat cerpen ini.” Katanya sambil memohon.
            AKu tersenyum dan berkata “boleh”. Lalu aku terdiam lagi. Aku sedang memikirkan judul yang tepat. Tiba-tiba, diotakku muncul judul yang sangat baik. Aku kembali membuka mulut dan berkata, “The Moving Train. Aku memlih judul ini karena pembicaraan kita terjadi di kereta bergerak yang pergi ke tujuan masing-masing.” Kataku sambil senyum.
            “Terima kasih atas bantuanmu. Saya yakin suatu hari, kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa, kawan kereta” katanya sambil tersenyum.
            Aku tersenyum padanya dan berkata “Sampai jumpa, juga kawan!” . Setelah berkata hal itu, aku membalikkan mukaku dan turun ke statiun untuk bertemu dengan ayah dan ibu di statiun Hall. Wanita itu, tetap harus melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Meski aku tak mengenalnya, aku berharap bahwa suatu hari saya bisa bertemu dengannya.
            “Lalu, apakah kamu tetap bertemu dengannya. Atau ia janji palsu kepadamu?” Tanya Pattie yang sangat seru mendengarkan ceritaku.
            “Hmmm…. Sejujurnya aku tak pernah bertemu dengan ia lagi. Kereta yang kutumpangi mengalami kecelakaan setelah bertabrakan dengan truk di tengah jalan. 70 orang tewas dalam kejadian itu. Hati ingin menangis tapi aku tetap berharap bahwa ia merupakan salah satu orang yang selamat. Aku tak mencarinya, karena aku tak tahu apa-apa tentang identitasnya. Tapi, aku yakin bahwa ia akan menepati janjinya untuk bertemu denganku” Kataku sambil mencoba menahan menangis.
            Prok,prok,prok itu dia bunyi setelah aku menyelesaikan ceritaku. Semua orang berdiri dan bertepuk tangan mendengar kisahku. Nasya-pun langusng menutup tangan meski aku tak pernah mengenalnya. Mereka mungkin gembira, karena aku telah membuat waktu pelajaran agama banyak terbuang.
“Terima kasih, Ravelto. Sekarang, siapa yang ingin bercerita?” kata Bu Carol sambil melihat satu kelas.
            Mendengar hal itu, aku melihat Nasya langsung mengangkat tangan dan meminta izin untuk menceritakan pengalamannya. Kami semua kaget, karen baru kejadian pertama kali, ada murid baru yang memberanikan memperkenalkan dirinya dahulu.
            Nasya berdiri dari mejanya dan mulai berjalan ke depan kelas sambil membawa buku kecilnya. Ia diam sebentar dan berkata “Teman-teman, saya suka menulis cerpen dan ada satu cerpen saya yang bedasarkan kisah hidup saya. Cerpen ini mengkisahkan persahabatan dua manusia antara aku dan dia. Menurutku, dia merupakan orang yang hebat, menganggumi dunia imajinasi dan sangat mencintai karya-karya Tuhan. Saya sudah punya judulnya dan selarang saya tahu nama pemeran satu lagi dalam cerpen saya.”
“Judulnya apa, Nasya”, kata Kezia yang bersemangat.
“Judulnya The Moving Train” katanya sambil melihatku dengan tersenyum. Lalu diiringi oleh tepuk tangan dan ribuan kata cinta yang tak ku mengerti artinya.
Setelah maju ke depan, ia datang kepadaku sambil tersenym dan berkata ”Ravelto, aku sudah menepati janjimu. Kita bertemu lagi.”
Mendengarnya, kami tertawa berdua mengingat kisah kami yaitu The Moving Train. Dan hari ini, kisah kami telah berlanjut.

TAMAT



Tidak ada komentar: