Pukul tujuh lewat sepuluh, bel berbunyi.
Anak-anak diluar kelas kembali masuk ke kelas untuk memulai pelajaran. Meski
matahari belum seutuhnya keluar dan embun pagi masih bersahaja, mereka semua
tetap bersemangat masuk sekolah.
Hari ini merupakan hari pertamaku masuk
sekolah. Meski otak masih berjalan-jalan di dunia mimpi, tapi ada setan yang
memaksaku bangun dari realita yaitu ayah dan ibu. Keadaan di kelas sebelas,
terasa lebih berbeda dari kelas 10. Teman-temannya berbeda, guru berbeda, dan
suasana kelasnya pun berbeda.
Namaku Ravelto. Aku duduk di kelas 11
A1. Kelas ini dipimpin oleh Bu Carol. Aku sudah mengenalnya ibundaku dari dulu.
Ia pernah mengajariku kelas 10. Lalu ketua kelas dipimpin pasquale yang
merupakan temanku sejak kelas 10. Saya sudah mengenalnya dari dulu.
Tak disangka, hari ini bu Carol datang
dengan gembira. Ia datang dengan membawa seorang anak muda bekulit putih.
Tiba-tiba, bu Carol berkata “Hai, murid-murid! Perkenalkan hari ini kita
kedatangan murid baru, namanya Nasya.” Melihatnya, kami bertepuk tangan sambil
ia berjalan ke kursi yang disiapkan untuknya.
Saat aku melihat Nasya, ia
mengingatkanku sesuatu. Mukanya mirip seperti orang yang kutemui dalam sebuah
perjalanan kereta yang mengakibatkan kecelakaan. Tapi saat berpikir hal itu,
aku coba mengelak dan berkata bahwa ia sudah tiada.
Karena hari ini merupakan hari pertama
sekolah, bu Carol meminta kami semua untuk menceritakan pengalamannya
masing-masing saat liburan. Dia melihat satu persatu muridnya untuk maju duluan.
Tiba-tiba, ia melihat kepadaku dan bertanya sambil bersenyum,”Ravelto”. Aku
yang tadi sedang bengong, akhirnya kaget. Aku berkata, “Kenapa, bu?” Ia hanya
tersenyum dan berkata “Silakan Maju”.
Karena terpaksa, aku maju ke depan
kelas. Sambil grogi, aku mulai berusaha memikirkan cerita apa yang harus
kuceritakan. “Aduh, otak ! Jangan error, dong!”kataku dalam hati. Aku berusaha
berpikir untuk menemukan hal yang diceritakan. Tapi sampai di depan, pikiranku
masih kosong dan akhirnya lku terdiam.
Di depan kelas, aku hanya terbengong dan
berpikir sesuatu. Teman sekelasku mulai bengong melihatku. Bu Carol sudah
melotot melihatku. Aku mulai keringat dingin, dan terus mencoba berpikir.
Tiba-tiba, aku teringat sesuatu cerita! Cerita tentang kecelakaan kereta yang
terjadi beberapa tahun lalu.
Setelah terdiam untuk menyusun kata, aku
menaikkan kepalaku yang sudah menunduk. Aku mulai berkata,” hai kawan-kawan,
hari ini saya akan menceritakan cerita pengalaman saya.” Aku menunduk lagi dan
terdiam. Setelah beberapa lama, aku kemali menaikkan kepalaku dan tersenyum.
“Inilah ceritaku”, kataku.
Cerita dimulai saat aku harus pulang
sendiri naik kereta dari Solo ke Bandung. Tak ada teman, tak ada orang tua.
Teman-temanku sudah pulang terlebih dahulu naik bus ke Jakarta. Sedangkan, aku
harus pergi ke Bandung terlebih dahulu unutuk menjemput ayah dan ibuku.
Hari itu, statiun sangatlah ramai.
Orang-orang berjalan dari dua arah berlawanan yang berbeda dengan dua tujuan
yang berbeda juga. Kebisingan statiun sangatlah terdengar. Bunyi rem dan bel
kereta terdengar keras. Masinis sedang mengambil tiket-tiket dari penumpang.
Sampah-sampah botol berserakan di lantai meski ada beberapa yang ditaruh dalam
tong sampah.
Diantara jutaan manusia yang masuk dan
keluar kereta, aku hanya sendiri. Dengan satu tiket harapan, yang membawaku ke
tempat tujuan yaitu Bandung. Perjalanan ke Bandung sekitar 5 jam. Berarti ada
perjalanan 5 jam keheningan, bukan?
Saat menunggu, aku duduk di serambi
kereta. Tiba-tiba, alat pengeras suara diatasku berbunyi. Ia berkata “Selamat
pagi. Kami ingin mengumumkan bahwa kereta jurusan Solo Balapan – Jakarta Gambir
telah datang. Bagi penumpang yang menggunakan kereta ini. Silakan pergi ke
peron B. Terima Kasih.”
Mendengar hal itu, aku langsung pergi ke
peron B dan memberikan tiket karcis kepada masinis. Masinis itu bingung
melihatku. Ia merasa bahwa aku terlalu kecil untuk naik kereta sendirian.
Mukanya menunjukan rasa simpati seperti aku anak yatim piatu saja.
Setelah melihat tiket itu, ia
membalikkannya kepadaku. Aku mengambilnya dengan muka ketus sambil masuk ke
dalam gerbong kereta. Aku langsung duduk di kursi paling dekat dengan pintu
kereta supaya nanti bisa keluar dari kereta secepatnya. Aku tak tertarik
orang-prang sekitar. Menurutku, mereka (orang-orang kereta) kelihatan membosankan.
Individualisme dan egoisme sangat terlihat di muka mereka.
Aku duduk sendirian di sana. Sampai
kereta mau jalan, aku tetap sendirian. Mungkin perjalanan keheningan yang
sangat kuimpikan akan tercapai. Aku bisa duduk sendiri menikmati hamparan sawah
ditemani kopi yang pasti akan kubeli sewaktu perjalanan. Ah, alangkah enaknya.
Saat pintu kereta itu mulai
perlahan-lahan tertutup, aku melihat seorang wanita belia,lari menuju keretaku.
Ia datang dengan tergesa-gesa sambil membawa tas selempang berwarna merah. Ia
masuk kereta dan tanpa melihat keadaan kereta yang masih agak kosong, ia langsung
duduk di seberangku. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung duduk bagai tak ada
orang di depannya.
Dalam waktu sebentar, kereta mulai
tertutup. Bel kereta mulai berbunyi dan roda kereta mulai bergerak secara
perlahan-lahan. Lama-kelamaan, kereta mulai bergerak dengan cepat dan pergi
meninggalkan statiun balapan.
Di perjalanan, aku hanya bisa menikmati
hamparan sawah yang sangat luas dan indah. Aku melihat para petani yang sedang
mencangkul tanahnya. Meski mukanya tak terlihat, aku bisa membayangkan muka
mereka yang lesu dan capai untuk mengoyak tanah sebanyak itu. Dielakang para
petani, terdapat bukit-bukit yang menjulang dengan tinggi. Seolah ada
pemandangan bersetetika tinggi yang bernilai mahal untuk digambar. Ia bagaikan
lukisan cantik nan indah.
Tetapi, namanya lukisan juga lukisan.
Pemandangan skeptis itu tidak berubah selama satu jam di dalam kereta. Akhirnya, timbullah kebosanan yang sangat
parah. Memang, aku merupakan orang yang bertipikal mudah bosan dan tidak suka
dengan hal yang sama secara terus menerus.
Untuk mengurangi kebosanan, aku mulai
bermain dengan diriku sendiri. Aku seperti merealitaskan dunia imajinasiku
dengan berbicara satu arah. Arah itu diputar 360®, sehingga menunjuk diri
sendiri yang juga sedang berbicara. Meski keliatan aneh dan agak tolol, tapi
sesungguhnya ini hanya untuk mengurangi kebosananku yang telah memuncak.
Drama kecil dengan puluhan tokoh dengan
satu pemeran telah menarik simpati
tetanggaku. Ia tersenyum padaku dan tertawa kecil-kecil seakan menghina diriku.
Melihatnya, mukaku menjadi ketus dan berhenti melakukan drama yang baru masuk
tahap konflik.
Setelah berhenti melakukan drama, ia
bertanya kepadaku “Adek sedang ngapain, drama kamu rasanya seru tuh. Ternyata
kamu juga bakat lakuin drama. Jadi guru TK aja, pasti semua anak suka.” katanya
diiringi tawa besar.
“Iya, Makasih tante. Sarannya
bagus.”kataku sambil menitik beratkan kata Makasih. Lalu, aku membuang muka dari mukanya seakan kesal
dengan perkataan dia. Melihat itu, dia berkata “Ah, sorry! Cuma bercanda.” Lalu
aku berkata dengan tersenyum, “Ia gapapa”.
Lalu keadaan kembali hening tanpa suara.
Setelah itu, aku kembali melihat
pemandangan yang berestetika mulai tak jelas. Pemandangan gunung-gunung dan
petani yang masih tradisonal mulai menghilang diganti dengan pemandangan
kota-kota yang bergaya semi-modern. Perpaduan pemandangan tradisional dan semi
modern ini sungguh sangat baik. Ia seperti lukisan yang sering kulihat di eksibisi
besar di mal-mal kakap di Jakarta. Sungguh pemandang yang cantik.
Saat sedang mengamati lukisan ciptaan
Tuhan yang cantik nan indah, tiba-tiba , aku mendengar tawa cecicikan dari
wanita sebelahku. Tawanya sangat mengangguku sampai aku tak bisa fokus melihat
mahakarya ciptaan Tuhan. Karena menganggu, aku langsung membalikan muka dan
melihatnya. Ia kaget dan hanya terdiam meski sambil menahan tawanya yang ingin
keluar.
Melihatnya,
aku pun bertanya, “Kenapa ketawa?”
Ia
hanya terdiam sambil tetap menulis. Lalu beberapa detik kemudian, ia
berkata,”Saya sedang menulis. Bolehkah, saya menulis tentang anda di cerita
ini?” katanya agak ketakutan.
Aku
tersenyum dan berkata, “boleh, royaltinya berapa ?”
Wanita
itu tertawa setelah mendengar apa yang tadi kukatakan. Ia berkata “Boleh, bila
cerpennya nanti sukses.”Ia terdiam sebentar, dan kembali bertanya “Anda
pelukis?”.
“Bukan,
aku hanya pengagum mahakarya buatan Tuhan. Dulu, aku pernah berusaha menjadi
penulis. Tapi sayangnya gagal. AKu tak bisa menafsrikan kata-kata indah.”kataku
sambil memurungkan kepala.
“Ohh….,
sayang sekali. Saya malah baru mau menjadi penulis setelah membaca novel Agatha
Christie? Apakah anda kenal dia?, katanya dengan senyum.
Mendengar
kata Agatha Christie, aku langsung kaget. Tak terbayang di otakku, bahwa ia
suka dengan Agatha Christie. Dari mukanya, ia terlihat seperti pembaca novel
romantis senjati. Bukan Novel Detektif seperti Agatha Christie.
“Oh..
YA YA ! Saya sangat ngefans sama dia.
Buku saya sudah lengkap semua. Saya sudah baca bukunya beribu-ribu kali sampai
hafal jalan ceritanya. Tapi, saya selalu sulit menebak pelakunya.
Hahahaha(tertawa)” kataku sambil tertawa.
Karena pembicaraan Agatha Christie,
selama 2 perjalanan penuh, saya banyak bercerita dengannya. Suasana hening yang
kuimpikan dengan kopi pecah karena pertemuan dengannya. Drama yang tadinya
hanya satu pemeran sekarang menjadi dua. Pembicaraan telah menjadi dua arah
dengan alur cerita sangat seru. Mungkin drama ini, akan sebentar lagi telah
mencapai klimaks.
Ditengah perjalanan seru, tiba-tiba
toak yang berada di tengah gerbong berbunyi. Ditengah banyak orang, ia
berteriak “Para Penumpang yang terhormat, sebentar lagi kereta akan sampai di
statiun Hall. Bagi penumpang, yang telah sampai pada tujuannya , silakan turun.
Terima kasih dan semoga selamat sampai tempat tujuan.”
Mendengar hal itu, aku berkata
kepada wanita muda yang mungkin seusia denganku bahwa aku harus pergi. Aku juga
berterima kasih kepadanya karena pembicaraan hari itu yang menyenangkan. Tapi
sebelum aku pergi, ia menarik tanganku dan berkata
“Eh sebelum anda pergi, saya ingin
bertanya satu hal kepada Anda. Boleh?” Tanyanya.
“Boleh, silakan.” kataku dengan
senyum.
“Apakah pembicaraan hari ini, boleh
saya jadikan cerpen? Bila boleh, tolong kasih saya judul yang bagus buat cerpen
ini.” Katanya sambil memohon.
AKu tersenyum dan berkata “boleh”.
Lalu aku terdiam lagi. Aku sedang memikirkan judul yang tepat. Tiba-tiba,
diotakku muncul judul yang sangat baik. Aku kembali membuka mulut dan berkata,
“The Moving Train. Aku memlih judul
ini karena pembicaraan kita terjadi di kereta bergerak yang pergi ke tujuan
masing-masing.” Kataku sambil senyum.
“Terima kasih atas bantuanmu. Saya
yakin suatu hari, kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa, kawan kereta” katanya
sambil tersenyum.
Aku
tersenyum padanya dan berkata “Sampai jumpa, juga kawan!” . Setelah berkata hal
itu, aku membalikkan mukaku dan turun ke statiun untuk bertemu dengan ayah dan
ibu di statiun Hall. Wanita itu, tetap harus melanjutkan perjalanan ke Jakarta.
Meski aku tak mengenalnya, aku berharap bahwa suatu hari saya bisa bertemu
dengannya.
“Lalu, apakah kamu tetap bertemu
dengannya. Atau ia janji palsu kepadamu?” Tanya Pattie yang sangat seru mendengarkan
ceritaku.
“Hmmm…. Sejujurnya aku tak pernah
bertemu dengan ia lagi. Kereta yang kutumpangi mengalami kecelakaan setelah
bertabrakan dengan truk di tengah jalan. 70 orang tewas dalam kejadian itu.
Hati ingin menangis tapi aku tetap berharap bahwa ia merupakan salah satu orang
yang selamat. Aku tak mencarinya, karena aku tak tahu apa-apa tentang
identitasnya. Tapi, aku yakin bahwa ia akan menepati janjinya untuk bertemu
denganku” Kataku sambil mencoba menahan menangis.
Prok,prok,prok itu dia bunyi setelah
aku menyelesaikan ceritaku. Semua orang berdiri dan bertepuk tangan mendengar
kisahku. Nasya-pun langusng menutup tangan meski aku tak pernah mengenalnya.
Mereka mungkin gembira, karena aku telah membuat waktu pelajaran agama banyak
terbuang.
“Terima
kasih, Ravelto. Sekarang, siapa yang ingin bercerita?” kata Bu Carol sambil
melihat satu kelas.
Mendengar hal itu, aku melihat Nasya
langsung mengangkat tangan dan meminta izin untuk menceritakan pengalamannya.
Kami semua kaget, karen baru kejadian pertama kali, ada murid baru yang
memberanikan memperkenalkan dirinya dahulu.
Nasya berdiri dari mejanya dan mulai
berjalan ke depan kelas sambil membawa buku kecilnya. Ia diam sebentar dan
berkata “Teman-teman, saya suka menulis cerpen dan ada satu cerpen saya yang
bedasarkan kisah hidup saya. Cerpen ini mengkisahkan persahabatan dua manusia
antara aku dan dia. Menurutku, dia merupakan orang yang hebat, menganggumi
dunia imajinasi dan sangat mencintai karya-karya Tuhan. Saya sudah punya
judulnya dan selarang saya tahu nama pemeran satu lagi dalam cerpen saya.”
“Judulnya
apa, Nasya”, kata Kezia yang bersemangat.
“Judulnya
The Moving Train” katanya sambil
melihatku dengan tersenyum. Lalu diiringi oleh tepuk tangan dan ribuan kata
cinta yang tak ku mengerti artinya.
Setelah
maju ke depan, ia datang kepadaku sambil tersenym dan berkata ”Ravelto, aku
sudah menepati janjimu. Kita bertemu lagi.”
Mendengarnya,
kami tertawa berdua mengingat kisah kami yaitu The Moving Train. Dan hari ini, kisah kami telah berlanjut.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar