Bingung
dan terbelunggu. Itulah sikapku ketika tidak melihat awan kuning yang bertebaran di angkasa. Hari ini aku
hanya melihat awan hitam, awan abu-abu, dan awan merah . Untuk pertama kalinya,
aku tidak melihat awan itu. Rasanya sangat kecewa melihat hal itu. Aku mengelus
dada dan mulai pergi meninggalkan taman yang kau janjikan untuk bertemu.
Tiba-tiba saat berjalan, ada seseorang wanita yang
bertanya kepadaku, ”Hei, dimanakah awan kuning itu berada?” Aku berkata, ”Awan kuning
itu telah pergi ditelan oleh matahari dan langit itu.” Dia kembali
bertanya,”Mengapa awan itu tak kabur atau pergi meninggalkan awan dan langit ?”.
Aku terdiam sejenak. Wanita tadi yang berbicara denganku
hanya tersenyum dan berkata, “Mengapa, anda terdiam?” Aku hanya berkata,”Aku juga tidak tahu mengapa awan kuning itu pergi.
Mungkin ia sedang melakukan perjalanan ke angkasa lain.”
Akhirnya wanita itu tersenyum sambil meninggalkan aku yang berdiri di taman
beringin yang sangat dingin. Dari parasnya, ia mengingatkanku tentang mantan
istriku yang telah lama meninggal. Tapi akupun tak berani bertanya kepadanya.
Aku takut salah.
Keesokan hari, aku kembali ke taman beringin itu dengan
mengenakan swater dan syal biru
kesayanganku. Disana, aku lihat cakrawala yang ada di atas ribuan – ribuan
pohon beringin itu. Aku mencoba mencari awan kuning itu. Tetapi sialnya, aku
hanya melihat awan hitam, awan abu-abu, dan awan merah yang ada di angkasa.
Hatiku mulai sedih dan akhirnya aku bangkit dari kursi itu dan sambil berjalan
keluar dari taman itu.
Di pintu gerbang itu, aku melihat sosok wanita yang
kemarin bertanya kepadaku mengenai awan kuning itu. Wanita itu menggunakan baju
dan rok kuning yang menyolok mata. Setahuku, ia menggunakan baju itu setiap
hari.
Saat melihatku, wanita itu mendekatiku dan bertanya,
“Apakah kau melihat awan kuning itu pada hari ini ? Bila kau melihatnya, tolong
bantu aku untuk menemukannya. Akupun juga ingin melihatnya ”, katanya dengan
senyumnya yang mengingatkan senyuman istriku yang telah lama pergi.
“Maaf, tapi aku tidak melihatnya. Mungkin awan itu sedang
pergi berekreasi dengan sahabatnya ke dunia yang jauh dari kita,”kataku sambil
membalas senyumannya.
Mendengar kata itu, wanita itu hanya bisa tertawa cekik-cekikan
sambil berkata, “Bagaimana cara awan itu berjalan –jalan? Ia kan tak punya
tangan, apalagi kaki! ”
Mendengar kata itu, bibirku tertutup bagaikan ada selotip
diantaranya. Aku tak tahu kenapa suara-suaranya mengingatkanku tentang
hari-hari bersama istriku. Suaranya saat cekikikan bagaikan suara tawa istriku.
Akupun terdiam memikirkan suaranya yang indah itu.
Melihat aku terbengong, wanita itu menepuk punggungku dan
berkata dengan agak takut ,”Engkau kenapa, kesal dengan candaanku? Bila kesal, maafkan
aku. Aku tak bermaksud menghinamu.”
Mendengar
hal itu, akupun tersenyum dan berkata,”Tidak apa-apa kok, aku cuma teringat
oleh suara seseorang saat mendengar suaramu. Hmmm… suaramu khas sekali.”
Ia
pun terdiam sejenak. Saat terdiam itu, aku bisa mulai merasakan kehadiran
istriku yang telah lama tiada. Wajahnya, suaranya, dan sifatnya sangat mirip
dengan istriku . Sempat terpikir di benakku, bahwa itu adalah istriku yang
telah kembali. Tapi akupun juga tak yakin bahwa ia istriku karena ia telah lama
mati oleh kecelakaan maut yang menimpanya.
Setelah
beberapa puluh detik terdiam, wanita itu mulai membuka mulutnya dan
berkata,”Bila aku boleh tahu, siapakah orang itu?.”
Saat
ia berkata seperti itu, aku merasa bahwa ada rasa ingin tahu yang bercampur takut yang membara di tubuhnya. Seketika itupun,
bongkahan salju diantara kita mulai mencair perlahan –lahan yang menandakan
bahwa ada api yang membara di hatinya. Aku yang tadinya kedinginan merasakan
panas hatinya hingga cucuran keringat mulai mengalir di tubuhku.
Aku
pun tertawa untuk mencarikan suasana, seketika rasa panas hatinya itupun
menghilang diantar salju-salju lebat yang mulai turun dari angkasa. Aku hanya
berkata,”Suaramu mirip seperti istriku. Ia telah lama pergi dari dunia dan
menemani ayah, ibuku dan teman awan-awannya diatas kita..”
“Ohh,
aku mohon maaf atas perginya istrimu. Mungkin istrimu akan selalu bahagia
mempunyai suami sepertimu yang selalu setia menunggunya meski hal itu mustahil
terjadi. Menurutku, kau adalah lelaki yang hebat dan setia. Sampai berjumpa
lagi di lain waktu.” katanya sambil
berjalan meninggalkanku melewati salju-salju lebat yang turun di malam
itu.
“Sampai
berjumpa lagi.”, kataku sambil melihat wanita itu berjalan meninggalkanku.
Mendengar hal itu, wanita itu membalikan mukanya sambil tersenyum, lalu ia
kembali berjalan dan hilang bagaikan tersapu salju lebat dari langit.
***
Hari
– hari berikutnya, aku semakin sering berbicara dengan wanita berbaju kuning
itu di taman beringin itu. Meski aku baru dekatnya dalam beberapa hari,aku
merasa bahwa ada perasaan yang berbeda saat aku berdekatan dengan dirimu. Apa
itu rasa cinta? Akupun tak berani mengungkapkannya karena akupun tak tahu.
Setelah
bersamanya, akupun merasa bahwa aku tak pernah mempedulikan awan kuning itu.
Mungkin awan kuning itu telah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Atau
awan kuning itu merupakan jelmaan dari dirinya yang suka memakai baju kuning
itu ? Akupun tak bisa menjelaskannya lewat kata-kata.
Setiap
kali bertemu dengannya, apakah ia merasa adakah perasaan diantara kita? Atau ia
hanya merupakan seorang teman baik yang menjadi tempat curhatanku saja? Segala
pertanyaan itu selalu tumbuh di benakku setiap bertemu dengannya. Tetapi
sayangnya setiap kali aku ingin bertanya mengenai hal itu, mulutku langsung
berbisu dan tak bisa berkata apa-apa.
Beberapa
minggu kemudian, untuk pertama kalinya ia tidak datang tepat waktu. Akupun
sangat bingung. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya, meski aku tak tahu
kapan ia akan datang. Saat itu untuk pertama kalinya, aku melihat ke atas untuk
mencari-cari awan kuning itu.
Ternyata,
awan kuning itu belum ada. Aku sangat kecewa karena awan kuning yang selalu
kuimpikan untuk kulihat ternyata belum juga datang. Apa awan itu sudah pergi
untuk selamanya karena aku sudah menemukan pendamping baru? Atau ia hanya
tertutup awan – awan hitam sehingga sinarnya tak mampu menebus cakrawala ?
Aku
memutuskan berdoa kepada Tuhan untuk mendatangkan awan kuning itu. Awan kuning
itu sangat penting bagiku, ia merupakan hadiah terakhir istriku sebelum ia menutup mata karena penyakit
kerasnya.
“Ya
Tuhan…., tolonglah berikan awan kuning di langit itu untuk terakhir kalinya.
Aku ingin melihatnya karena itu sangat berharga bagiku.” Itu dia isi hatiku
terhadap Tuhan.
Saat
aku berdoa, ada yang menepuk punggungku dengan lemah lembut. Akupun terkejut
seketika dan membuka mata. Ternyata ia merupakan wanita baju kuning yang
tersenyum melihatku. Ia pun langsung duduk dan bertanya,
“Apa
yang anda lakukan?”, kata wanita itu.
Aku
membalasnya, “Saya sedang berdoa sambil menunggu dirimu.Dari tadi anda dimana?
Saya menunggumu lama sekali.”
“Oh,
mohon maaf….Saya banyak urusan kantor. Mengapa Anda berdoa ? ,”katanya.
“Ohh..
saya berdoa untuk kehadiran awan kuning,”kataku sambil melihat awan.
“Memang
mengapa masih berdoa mengenai kehadiran awan kuning itu? Saya pikir anda sudah
lupa mengenai awan itu.”, katanya sambil tertawa.
“Itu
merupakan hadiah terakhir dari istri saya.
Sebelum ia menutup mata, ia berkata bahwa setiap sore ia akan menemani
saya lewat awan kuning itu dan sekarang saya merindukannya” Kataku.
Mendengar
itu, ia mulai terdiam dan tak berkata apa-apa. Pandanganya kosong ke depan.
Akupun yang melihatnya terheran, mengapa ia terbengong saat aku berbicara
seperti itu. Akhirnya aku berani
bertanya kepadanya,”Anda kenapa, banyak masalah ?”. “Bukan, saya hanya berdiam
menikmati salju-salju yang mulai berturunan dari langit itu,” katanya sambil
menunjukan langit yang mulai gelap.
Akupun
terdiam dan akhirnya menikmati salju-saju yang mulai turun dari langit. Tidak
ada percakapan diantara kita. Kita pun bersama-sama diam hingga kaupun
memutuskan pergi dan menghilang perlahan-lahan bagai ditelan salju.
Saat
aku berjalan ditaman beringin itu pada esok hari, untuk pertama kalinya aku
melihat awan kuning itu. Akupun terkejut dan senang bukan kepalang. Akhirnya
setelah beberapa minggu hilangnya awan itu, ia kembali muncul untuk menemaniku.
Dalam hati aku yakin, bahwa istriku telah kembali menemani diriku yang sepi.
Aku
pun tak sabar untuk menceritakan hal ini kepada teman curhatku di tanam itu.
Hari itu aku sangat senang. Aku berlari ke tempat dimana kita bertemu yaitu
kursi di sebelah kiri pintu gerbang taman beringin itu.
Saat
aku sampai disana, aku tak melihat dirinya yang menungguku. Aku hanya melihat
surat di kertas kecil yang bertulis.
“Hai!
Apa kamu sudah melihat awan kuning itu? Semoga-moga kau senang melihat awan
kuning itu. Bila kau senang, akupun akan sangat senang.”kata surat itu dengan
dibagian bawah kanan secarik kertas itu tertulis “ Wanita berbaju kuning”.
Saat
melihat kertas itu, senyumanku mulai berubah menjadi air mata. Tak terasa, air
mataku mulai menetes perlahan –lahan dari wajahku menuju dinginya salju di
bawah. Akupun mulai menyesal dengan apa yang kudoakan pada hari kemarin.
Sekarang, aku hanya bisa menyesal karena wanita berbaju kuning itu telah
menjadi sekumpulan awan, awan kuning di angkasa.
Tamat
(Cerpen ini pernah mau dikirim ke kompas, tapi kayanya gagal. hehehehe)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar