Rabu, 24 Desember 2014

Cerpen 1 : Kisah Awan Kuning di Pohon Beringin

Bingung dan terbelunggu. Itulah sikapku ketika tidak melihat awan kuning  yang bertebaran di angkasa. Hari ini aku hanya melihat awan hitam, awan abu-abu, dan awan merah . Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat awan itu. Rasanya sangat kecewa melihat hal itu. Aku mengelus dada dan mulai pergi meninggalkan taman yang kau janjikan untuk bertemu.
            Tiba-tiba saat berjalan, ada seseorang wanita yang bertanya kepadaku, ”Hei, dimanakah awan kuning itu berada?” Aku berkata, ”Awan kuning itu telah pergi ditelan oleh matahari dan langit itu.” Dia kembali bertanya,”Mengapa awan itu tak kabur atau pergi meninggalkan awan dan langit ?”.
            Aku terdiam sejenak. Wanita tadi yang berbicara denganku hanya tersenyum dan berkata, “Mengapa, anda terdiam?” Aku hanya berkata,”Aku  juga tidak tahu mengapa awan kuning itu pergi. Mungkin ia sedang melakukan perjalanan ke angkasa lain.”
            Akhirnya wanita itu tersenyum  sambil meninggalkan aku yang berdiri di taman beringin yang sangat dingin. Dari parasnya, ia mengingatkanku tentang mantan istriku yang telah lama meninggal. Tapi akupun tak berani bertanya kepadanya. Aku takut salah.
            Keesokan hari, aku kembali ke taman beringin itu dengan mengenakan swater dan syal biru kesayanganku. Disana, aku lihat cakrawala yang ada di atas ribuan – ribuan pohon beringin itu. Aku mencoba mencari awan kuning itu. Tetapi sialnya, aku hanya melihat awan hitam, awan abu-abu, dan awan merah yang ada di angkasa. Hatiku mulai sedih dan akhirnya aku bangkit dari kursi itu dan sambil berjalan keluar dari taman itu.
            Di pintu gerbang itu, aku melihat sosok wanita yang kemarin bertanya kepadaku mengenai awan kuning itu. Wanita itu menggunakan baju dan rok kuning yang menyolok mata. Setahuku, ia menggunakan baju itu setiap hari.
            Saat melihatku, wanita itu mendekatiku dan bertanya, “Apakah kau melihat awan kuning itu pada hari ini ? Bila kau melihatnya, tolong bantu aku untuk menemukannya. Akupun juga ingin melihatnya ”, katanya dengan senyumnya yang mengingatkan senyuman istriku yang telah lama pergi.
            “Maaf, tapi aku tidak melihatnya. Mungkin awan itu sedang pergi berekreasi dengan sahabatnya ke dunia yang jauh dari kita,”kataku sambil membalas senyumannya.
            Mendengar kata itu, wanita itu hanya bisa tertawa cekik-cekikan sambil berkata, “Bagaimana cara awan itu berjalan –jalan? Ia kan tak punya tangan, apalagi kaki! ”
            Mendengar kata itu, bibirku tertutup bagaikan ada selotip diantaranya. Aku tak tahu kenapa suara-suaranya mengingatkanku tentang hari-hari bersama istriku. Suaranya saat cekikikan bagaikan suara tawa istriku. Akupun terdiam memikirkan suaranya yang indah itu.
            Melihat aku terbengong, wanita itu menepuk punggungku dan berkata dengan agak takut ,”Engkau kenapa, kesal dengan candaanku? Bila kesal, maafkan aku. Aku tak bermaksud menghinamu.”
Mendengar hal itu, akupun tersenyum dan berkata,”Tidak apa-apa kok, aku cuma teringat oleh suara seseorang saat mendengar suaramu. Hmmm… suaramu khas sekali.”
Ia pun terdiam sejenak. Saat terdiam itu, aku bisa mulai merasakan kehadiran istriku yang telah lama tiada. Wajahnya, suaranya, dan sifatnya sangat mirip dengan istriku . Sempat terpikir di benakku, bahwa itu adalah istriku yang telah kembali. Tapi akupun juga tak yakin bahwa ia istriku karena ia telah lama mati oleh kecelakaan maut yang menimpanya.
Setelah beberapa puluh detik terdiam, wanita itu mulai membuka mulutnya dan berkata,”Bila aku boleh tahu, siapakah orang itu?.”
Saat ia berkata seperti itu, aku merasa bahwa ada rasa ingin tahu yang bercampur takut  yang membara di tubuhnya. Seketika itupun, bongkahan salju diantara kita mulai mencair perlahan –lahan yang menandakan bahwa ada api yang membara di hatinya. Aku yang tadinya kedinginan merasakan panas hatinya hingga cucuran keringat mulai mengalir di tubuhku.
Aku pun tertawa untuk mencarikan suasana, seketika rasa panas hatinya itupun menghilang diantar salju-salju lebat yang mulai turun dari angkasa. Aku hanya berkata,”Suaramu mirip seperti istriku. Ia telah lama pergi dari dunia dan menemani ayah, ibuku dan teman awan-awannya diatas kita..”
“Ohh, aku mohon maaf atas perginya istrimu. Mungkin istrimu akan selalu bahagia mempunyai suami sepertimu yang selalu setia menunggunya meski hal itu mustahil terjadi. Menurutku, kau adalah lelaki yang hebat dan setia. Sampai berjumpa lagi di lain waktu.” katanya sambil  berjalan meninggalkanku melewati salju-salju lebat yang turun di malam itu.
“Sampai berjumpa lagi.”, kataku sambil melihat wanita itu berjalan meninggalkanku. Mendengar hal itu, wanita itu membalikan mukanya sambil tersenyum, lalu ia kembali berjalan dan hilang bagaikan tersapu salju lebat dari langit.
                                                            ***
Hari – hari berikutnya, aku semakin sering berbicara dengan wanita berbaju kuning itu di taman beringin itu. Meski aku baru dekatnya dalam beberapa hari,aku merasa bahwa ada perasaan yang berbeda saat aku berdekatan dengan dirimu. Apa itu rasa cinta? Akupun tak berani mengungkapkannya karena akupun tak tahu.
Setelah bersamanya, akupun merasa bahwa aku tak pernah mempedulikan awan kuning itu. Mungkin awan kuning itu telah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Atau awan kuning itu merupakan jelmaan dari dirinya yang suka memakai baju kuning itu ? Akupun tak bisa menjelaskannya lewat kata-kata.
Setiap kali bertemu dengannya, apakah ia merasa adakah perasaan diantara kita? Atau ia hanya merupakan seorang teman baik yang menjadi tempat curhatanku saja? Segala pertanyaan itu selalu tumbuh di benakku setiap bertemu dengannya. Tetapi sayangnya setiap kali aku ingin bertanya mengenai hal itu, mulutku langsung berbisu dan tak bisa berkata apa-apa.
Beberapa minggu kemudian, untuk pertama kalinya ia tidak datang tepat waktu. Akupun sangat bingung. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya, meski aku tak tahu kapan ia akan datang. Saat itu untuk pertama kalinya, aku melihat ke atas untuk mencari-cari awan kuning itu.
Ternyata, awan kuning itu belum ada. Aku sangat kecewa karena awan kuning yang selalu kuimpikan untuk kulihat ternyata belum juga datang. Apa awan itu sudah pergi untuk selamanya karena aku sudah menemukan pendamping baru? Atau ia hanya tertutup awan – awan hitam sehingga sinarnya tak mampu menebus cakrawala ?
Aku memutuskan berdoa kepada Tuhan untuk mendatangkan awan kuning itu. Awan kuning itu sangat penting bagiku, ia merupakan hadiah terakhir istriku  sebelum ia menutup mata karena penyakit kerasnya.
“Ya Tuhan…., tolonglah berikan awan kuning di langit itu untuk terakhir kalinya. Aku ingin melihatnya karena itu sangat berharga bagiku.” Itu dia isi hatiku terhadap Tuhan.
Saat aku berdoa, ada yang menepuk punggungku dengan lemah lembut. Akupun terkejut seketika dan membuka mata. Ternyata ia merupakan wanita baju kuning yang tersenyum melihatku. Ia pun langsung duduk dan bertanya,
“Apa yang anda lakukan?”, kata wanita itu.
Aku membalasnya, “Saya sedang berdoa sambil menunggu dirimu.Dari tadi anda dimana? Saya menunggumu lama sekali.”
“Oh, mohon maaf….Saya banyak urusan kantor. Mengapa Anda berdoa ? ,”katanya.
“Ohh.. saya berdoa untuk kehadiran awan kuning,”kataku sambil melihat awan.
“Memang mengapa masih berdoa mengenai kehadiran awan kuning itu? Saya pikir anda sudah lupa mengenai awan itu.”, katanya sambil tertawa.
“Itu merupakan hadiah terakhir dari istri saya.  Sebelum ia menutup mata, ia berkata bahwa setiap sore ia akan menemani saya lewat awan kuning itu dan sekarang saya merindukannya” Kataku.
Mendengar itu, ia mulai terdiam dan tak berkata apa-apa. Pandanganya kosong ke depan. Akupun yang melihatnya terheran, mengapa ia terbengong saat aku berbicara seperti itu. Akhirnya aku  berani bertanya kepadanya,”Anda kenapa, banyak masalah ?”. “Bukan, saya hanya berdiam menikmati salju-salju yang mulai berturunan dari langit itu,” katanya sambil menunjukan langit yang mulai gelap.
Akupun terdiam dan akhirnya menikmati salju-saju yang mulai turun dari langit. Tidak ada percakapan diantara kita. Kita pun bersama-sama diam hingga kaupun memutuskan pergi dan menghilang perlahan-lahan bagai ditelan salju.
Saat aku berjalan ditaman beringin itu pada esok hari, untuk pertama kalinya aku melihat awan kuning itu. Akupun terkejut dan senang bukan kepalang. Akhirnya setelah beberapa minggu hilangnya awan itu, ia kembali muncul untuk menemaniku. Dalam hati aku yakin, bahwa istriku telah kembali menemani diriku yang sepi.
Aku pun tak sabar untuk menceritakan hal ini kepada teman curhatku di tanam itu. Hari itu aku sangat senang. Aku berlari ke tempat dimana kita bertemu yaitu kursi di sebelah kiri pintu gerbang taman beringin itu.
Saat aku sampai disana, aku tak melihat dirinya yang menungguku. Aku hanya melihat surat di kertas kecil yang bertulis.
“Hai! Apa kamu sudah melihat awan kuning itu? Semoga-moga kau senang melihat awan kuning itu. Bila kau senang, akupun akan sangat senang.”kata surat itu dengan dibagian bawah kanan secarik kertas itu tertulis “ Wanita berbaju kuning”.
Saat melihat kertas itu, senyumanku mulai berubah menjadi air mata. Tak terasa, air mataku mulai menetes perlahan –lahan dari wajahku menuju dinginya salju di bawah. Akupun mulai menyesal dengan apa yang kudoakan pada hari kemarin. Sekarang, aku hanya bisa menyesal karena wanita berbaju kuning itu telah menjadi sekumpulan awan, awan kuning di angkasa.


Tamat

(Cerpen ini pernah mau dikirim ke kompas, tapi kayanya gagal. hehehehe)

Tidak ada komentar: